Oleh: pakpaksim | 17 September 2010

“PESANGKUT RANTE”

Oleh Muda M. Banurea

Dalam masyarakat yang homogen, sulit membantah bahwa diantara masyarakatnya terdapat hubungan kekeluargaan yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Jika ditelusuri lebih jauh, maka hamper semua orang memiliki kaitan keluarga atau dalam seharai-hari dinamakan kaitan pamili. Demikian halnya dengan Simsim atau Kabupaten Pakpak Bharat sekarang ini. Jumlah Marga tidak terlalu banyak, Mpu Bada dan berrunya Delapan Marga, Si Tellu Bapa Sada Inang tiga marga, Sisibah sada koden dengan sembilan marga, Ditambah beberapa marga yang sudah hampir menjadi Simsim. Jadi tidak lebih dari 25 marga, dengan jumlah warganya yang juga relative sedikit hanya plus minus 38 ribu orang. Pasti diantara mereka ada kaitan kekluargaan.

Dari sisi ini seyogianya tidak sulit membangun komitmen, menciptakan interaksi yang kondusif, memadukan derap langkah dalam irama yang sama dan menetapkan satu tujuan yang sama. Meskipun fakta social barangkali bercerita lain. Menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin, memilih program pembangunan yang menjadi prioritas, memilih 20 orang anggota DPRD, memilih Kepala Dinas  dan Pemimpin Lembaga Sosial lainnya bisa dibangun melalui hubungan yang “pesangkut rante”. Tinggal lagi bagaimana masyarakat menyadari bahwa daerah ini adalah merupakan milik bersama yang perlu dijaga secara bersama-sama, dan dibangun bersama. Pemipin pemimpin lembaga adat, atau tokoh masyarakat dapat dijadikan Mahkamah yang diberi otoritas yang luas, tetapi juga harus dipercaya dengan penuh loyalitas oleh warganya.

Banyak peristiwa sosial dan politik yang dapat menjadi refleksi pemaknaan kekeluargaan yang pesangkut rante. Manakala kenaikan BBM di beberapa daerah bergejolak, di Pakpak Bharat tidak. Ketika ada Pemilihan Bupati mengganti jabatan yang lowong atau Jabatan wakil Bupati yang perlu diisi dapat dijadikan sebagai contoh. Rante-rente kita masih terawat dengan baik, belum keropos, berkarat dan di “sontar”kan oleh provokator. Meskipun barangkali terdapat kenderungan mulai agak “seoh”.

Namun demikian prinsip “Pesangkut rante” setidaknya harus dihindarkan agar tidak semata-mata dijadikan untuk bisa membangun korporasi negative yang menjatuhkan Pemerintahan. Menciptakan sindikat yang merusak tatanan dalam ekonomi, membangun semacam korupsi berjamaah, melainkan didasari oleh niat tulus dalam membangun, terbuka, transparan dan akuntabel. Atau tidak menjadi “asal lot na sambing”, bahkan “marang bakune pe dengan merubat giam lot”. Persyaratan mutlak dipenuhi, kwalitas dijadikan pilihan utama, Kapasitas dan kapabilitas seseorang diperlukan, adanya visi dan misi yang membangun menjadi utama. “Pesangkut rante” adalah pra kondisi dalam melakukan pilihan kebijakan, bukan pula satu satunya prasyarat.

Pilihan kebijakan hanya berdasarkan satu marga, satu horong, satu lebbuh, sempangan atau ada kaitan kekeluargaan semata-mata tanpa didukung oleh persyaratan yang memadai mestinya dihindari. Kalu toh tidak berkwalitas janganlah dijadikan pilihan. Jangan takut hal itu tidak akan mengurangi “pengeseangta” pada dengan sebeltek, kula-kula ataupun berru. Sebab kepentingan jangka panjang yang lebih luas, mengisi pembangunan di Pakpak Bharat, menjadikan masyarakatnya yang “nduma”, tetap merupakan cita-cita yang melandasi setiap kebijakan kita. Jika demikian maka “pesangkut rante “ akan lebih bermakna, menjadi alat pemersatu dalam segala hal dan menjadi penentu kebijakan yang bermartabat dan berbudaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: