Oleh: pakpaksim | 11 September 2010

NAING KATENA…!!!

Oleh Muda M. Banurea

Terjemahannya sangat konotatif dan lebih dapat dipahami ketika mendengar langsung  dari sipenutur kalimat. Sebab intonasi menguatkan pemaknaan. Jika diteruskan maka dapaf diartikan adanya yakni adanya Niat (ambisi) tanpa didukung kemampuan, ada ambisi tetapi lemah pada sisi materi, kapasitas intelektual, miskin pengalaman, kurang gaul, sosialisasi dan lain-lain. Konon ungkapan yang bersifat ironi ini dimunculkan oleh seseorang yang dikenal dengan julukan “KCP” atau Kuncup, ia bermarga Boangmanalu dan tinggal di lae trondi. Kemudian berkembang dan menjadi sering terdengar pada saat ada pemilihan Kepala Desa atau pemilihan lain-lain. Ironi sosial sebagai dampak watak materialistis, konsumerisme atau lebih jauh sebagai akibat ideologi yang kapitalistis. Segala sesuatu menjadi lebih “money oriented”, ukuran sosial lainnya dikalahkan oleh pendekatan ekonomis. Dari sisi praktika, maka ungkapan itu lebih ditekankan pada kekurangan uang dan atau harta lainnya yang bisa diuangkan.

Jika ada ambisi, niat, keinginan untuk mencapai satu posisi tertentu maka kebaikan, kepedulian, ketokohan, kemampuan managerial terabaikan tanpa materi yang diukur dengan uang. Nonang tentang “cair” yang pernah dimuat pada  media rintis Prana  memiliki makna yang relatif sama. Ukuran sesaat, tanpa memperhitungkan akibat dimasa depan lebih mengemuka. Karena “ise pe kampung kaltu, tong ngo kita membayar pajak”. Konsep pembangunan dan sosial lainnya nggak usah dipermasalahkan. Kepentingan yang bersifat umum dikalahkan oleh kepentingan pribadi. Karena “en kessa lahta kaltu”.Dan kalau saja ini menjadi realitas kehidupan masyarakat kita, maka tatanan sosialpun mengalami kemerosotan. Degradasi kultur tidak lagi terkikis atau luntur, melainkan punah dan terberangus.

Statement yang dangkal, sesaat, materialistis dan ironi ini perlahan sudah merasuk banyak pikiran. Awalnya memang adalah bahan tertawaan yang menghibur, meski secara tidak sadar menjadi bagian pendapat, pandangan bahkan bisa jadi mengarah pada prinsip dalam menentukan sebuah pilihan. Rimpah-rimpah, atau gotong royong, , sada kata dok perteddung asa dapet olih, dan beberapa pilosopy ke”Pakpak”an lain kini menguap. Kekerabatan atau “tutur” melepaskan diri dari ikatannya.

Jika diterawang lebih jauh, maka kita tidak perlu memperbaiki pendidikan generasi kita, sebab tidak lagi bisa diharapkan sebagai referensi atau prasyarat pada capaian keberhasilan. Moralitas sebagai produk budaya dan pendidikan agama mungkin juga mengalami nasib yang sama. Runggu dan beberapa modal sosial budaya lainnya kurang dapat diandalkan. Posisi dan jabatan strategis hanya milik kaum berpunya.

Dalam kondisi semacam itu, maka jangan berkampanye dengan program dan rencana ideal, tetapi tawarkanlah sesuatu hal yang pragmatis, itupun jangan terlalu berharap itu akan menjadi bahan yang dibawa pulang kerumah sebagai renungan apalagi pertimbangan. Ia lebih bersifat akses sebagai model pendekatan untuk tiba saatnya ada pemberian kepada publik. Nggak usah bercerita tentang latar belakang pendidikan, pengalaman yang mendukung pekerjaan, kepedulian yang pernah teraplikasi, tetapi janjikanlah sesuatu yang menggiurkan maka mata akan tertuju kepada satu arah. Kita akan menjadi tumpuan harapan, dan menjadi satu-satunya tokoh yang dapat dikuti.

Berhematlah dengan anggaran operasional, tahan diri untuk memberikan bantuan kepada lembaga-lembaga sosial atau agama, jangan memberikan “bante” secara membabi buta tinggal tunggu saja tanggal mainnya. Sebab janji dan “bual” yang diumbar sudah memberikan jaminan bahwa itu akan menjadi penantian panjang meskipun terkadang tidak dibarengi dengan kesabaran. Oleh karena itu, jika “naing katenta”, maka siapakanlah  perangkat lunak dengan matang, cari pinjaman ke kanan kiri, pastikan bahwa dirumah ada sesuatu yang bisa dijadikan agunan. Visi dan misi cukup dikerjakan consultan, dan untuk itu perbanyak menghapal siapa tau ada yang iseng bertanya. Strategi pemenangan hanya dilakukan dengan melakukan studi perbandingan terhadap kemampuan materil pihak kompetitor. Jangan risaukan tingginya pendidikan, atau pengalamannya yang matang, atau kedalaman pemikiran dan konsep. Sebab pada akhirnya ukuran utama terletak pada seberapa besar janji yang terumbar akan terealisasi. Jika tidak, maka ungkapan final yang akan diterima adalah “Naing katena…..!!!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: