Oleh: pakpaksim | 10 September 2010

MERSIBAHAN LIHNA…! DOK PA LONGGAH

Oleh : Muda M. Banurea

Muda M. Banurea

Secara phisik, penulis sama sekali tidak pernah mengenal Pa Longgah, Konon bermarga Manik dan dahulu tinggal di Kecupak, Kec. PGGS. Tetapi di era delapan puluhan istilah ini akrab dan sempat melekat. Sering digunakan untuk mengingatkan orang, akan perlunya kerjasama, koordinasi, komitment kesepahaman dan kesepakatan. Pola hidup yang dulu dilakoni oleh masyarakat Indonesia umumnya dan tidak ketinggalan masyarakat Pakpak. Kecenderungan menipisnya watak dan sifat budaya semacam ini demikian menggejala. Dikota-kota besar semisal Jakarta memang fenomenanya sudah lama terjadi, sehingga kita begitu mengenal kata “Cuek”, atau “Siapa lu siapa gue”. Interaksi sosial dibangun berdasarkan kepentingan, ekonomi atau bisnis. Antar tetangga memiliki hubungan komunikasi terbatas, berjarak dan intensitasnya rendah. Tidak perduli dengan apa yang dilakukan orang lain, sepanjang tidak bersentuhan atau mengganggu kepentingannya. Namun belakangan terdapat pergeseran, kesamaan nasib, kesamaan perasaan kebencian terhadap kejahatan, korupsi dan lain sebagainya melahirkan kekompakan warga meskipun mungkin masih sebatas emosi massa.

Berbeda dengan kota yang semakin menyadari perlu interaksi social yang positif dan kehidupan keseharian, justeru daerah pinggiran dan desa mengalami situasi terbalik. Era “cuek” perkotaan yang menjadi masa lalu, di desa menjadi watak masa kini. Media “rintis prana” pernah menulis tentang hilangnya budaya “abin-abin”, pergeseran sifat kegotongroyongan oleh uang atau materi, kini diakrabi masyarakat. Watak individualistis merasuki kehidupan masyarakat.

“Mersibahan lihna dok Pa Longgah”, sudah menjadi jargon yang berlangsung lama. Meskipun Pa Longgah tidak pernah mengenal Kapitalisme yang merangsang watak individualistis. Meskipun dia tidak pernah mengira dunia yang semakin mengglobal dan tanpa jarak akan terjadi, tetapi pandangannya menjadi demikian futuristic. Ungkapannya yang barangkali disampaikan secara spontan tanpa teori dan analisa ilmiah itu, menjadi milik public dan sering dipakai dimasa delapan puluhan. Memang era sembilan puluhan dan era millennium ini, ungkapan itu semakin jarang terdengar. Mungkin sudah banyak orang yang lupa, atau mungkin juga dikarenakan gejala yang ada ditengah-tengah masyarakat telah demikian dalam merasuk, sehingga tidak pernah dianggap lagi sebagai ancaman atau peringatan. Atau watak individualistik sudah digauli dengan akrab, mengenakkan  yang berubah menjadi budaya kita sehingga tidak perlu diingatkan lagi oleh istilahnya Pa Longgah.

Kita, secara kasat mata kini melihat “melek-melekan” tidak lagi digandrungi. Yang datang hanya keluarga dekat, bahkan tetangga sekalipun enggan. “Menonggor” orang yang meninggal dunia menjadi pekerjaan terpaksa, jeritan tetangga hanya dipandang dengan mengintip dari horden jendela apalagi menolong orang yang mengalami kecelakaan. Takut dijadikan saksi.

Dalam konteks pembangunan, melihat pola hubungan pelaksanaan pemerintahan dimana antar program tidak bersinergi, terpisah dan parsial  dan mersibahan lihna juga kini ditemui. Sulit mengharapkan PPL pertanian membantu PPL perdagangan dan koperasi, sebab masing-masing punya honor dan SPJ sendiri-sendiri. Pihak PU tidak perlu berkoordinasi dengan Kecamatan dan Desa terhadap jalan mana yang perlu mendapat pemeliharaan. Kepala Desa mencak-mencak, sebab jalan yang dipelihara sudah dikerjakan lewat program kegiatan gotong royong. Dan kemudian menjadi “ruk-rak”. Kantor PMD punya program Pemberian Makanan Tambahan yang juga menjadi lahan empuk PKK.Irigasi banyak yang dibangun oleh PU, tetapi  pembukaan perluasan lahan dengan “galian”, tidak juga dilakukan Dinas Pertanian. Ia sibuk membangun tanaman holtikultura sehingga irigasi kita menjadi mubazir. Pokonya serba “mersibahan lihna”, “mersiurus ajangna”, tanpa perlu mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas. Kalau akhirnya “merdugu” atau “pehantuk” tidak jadi masalah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: