Oleh: pakpaksim | 10 September 2010

MERBUAH KESSA TRUTUNG I, TONGA…..!

Oleh Muda Banurea

Trutung atau durian di walayah Pakpak Bharat, dilihat dari luas lahannya sebetulnya tidak besar, tetapi agaknya ada beberapa daerah yang  popular sebagai penghasil buah trutung seperti Simerpara, Sibagindar, Sibande, Buluh Tellang dan lain-lain. Dulu, buahnya bukan merupakan komoditi yang laku di jual dengan harga yang memadai, umumnya hanya merupakan barang “luah” atau oleh-oleh. Jika musimnya tiba, petaninya relative kebingungan, apalagi jika berbuah banyak. Aromanya begitu menyengat, dan akibatnya membusuk dan mengganggu karena tidak bisa diangkut untuk dijual. Pada saat seperti itu, biasanya sang pemilik kebun berharap banyak agar saudara atau famili berdatangan. Dan disituasi seperti itulah kalimat yang bernada sindiran diatas muncul. Merbuah kessa trutung I, tonga….! Kurang lebih diartikan bahwa ia hanya kenal sebagai saudara saat musim trutung berbuah. Mungkin berawal di Kuta Kettang, Salak Kab. Pakpak Bharat. Tonga adalah kekerabatan adik Bapak. Namun dalam konteks ini tidak peduli apa hubungan kekerabatannta, apakah mestinya ia Bapak, Puhun, Mamberru, Abang atau apa saja yang penting untuk bisa dapat buah trutung, maka pemilik akan dipanggil “Tonga”.


Pilpres

Trutung tidak laku jual itu bukan karena rasanya yang tidak gurih, atau ukurannya yang tidak sesuai, melainkan karena lokasi kebun sangat jauh dan tidak terjangkau. Dapat dipahami karena memang sarana infrastruktur jalan pada masa itu  belum tersedia. Ongkos pengangkutan tidak sepadan dengan harga jual. Karena orang hanya mampu membawa empat hingga enam buah ke pasar atau “onan”. Itupun dengan keringat sebesar jagung, sehingga pada saat diuangkan hanya mampu membeli “sira” dan tidak untuk ikan apalagi beras. Oleh karena itulah muncul jenis makanan” Jerruk” yakni durian yang dibusukkan dalam bambu untuk dijadikan bahan sambal sebagai lauk. Atau” salua”, sejenis dodol yang semua bahannya terbuat dari durian. Lebih baik dibusukkan dengan tertutup rapat agar tidak dimasuki kuman  daripada busuk sendiri. Seluruh kampung bisa berbau busuk dengan aromanya yang mengganggu.

Sekarang ini, kondisi seperti itu sulit ditemukan. Sarana transportasi semakin lancar, infrastrutkur jalan terbuka, hingga trutung sudah menjadi barang mahal dan laku jual. Oleh karena itulah kini kita jarang menjumpai Jerruk, bahkan salua atau dengan kata lain hampir tidak ditemukan lagi. Memproduksi kedua jenis makanan tersebut tentu menjadi mahal, dan tidak ekonomis baik dilihat dari banyaknya bahan yang diperlukan maupun waktu dan masa pembuatannya yang cukup memakan waktu. Toke durian, kini sudah masuk ke kebun-kebun durian masyarakat, sehingga masyarakat tidak direpotkan lagi dengan masalah pengangkutan.

Istilah , merbuah kessa trutung I, tonga…! Yang bermula dari situasi semacam itu terlanjur melekat dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Diarahkan sebagai sindiran halus, bagi seseorang yang mencoba melakukan pendekatan terhadap orang lain, meski sebelumnya jarang dijumpai atau ditemui. Pendekatan hanya dilakukan pada saat ada kebutuhan, atau manakala orang yang didekati sudah memiliki sesuatu yang berharga. Hubungan komunikasi hanya terjalin pada saat adanya kebutuhan. Lebih popular lagi manakala akan ada Pemilihan Kepala Desa, Pemilu Legislatif yang memilih anggota DPRD atau Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Silsilah hubungan keluarga dikorek, digali dan didekatkan dengan cara dipaksakan. Atau hubungan yang sebelumnya beku dicoba dicairkan, karena ada interest pribadi. Ingin menjadi Kepala Desa misalnya atau Anggota DPRD atau Bupati dan Wakil Bupati.

Jika dahulu kala, meski sindiran seperti itu muncul, tetapi dibaliknya ada rasa senang karena keluarga datang berkunjung, atau dengan demikian buah trutung yang begitu banyak dapat dibagi, sehingga tidak mengganggu, maka dalam konteks interest kekinian, yang terjadi sebaliknya. Orang murni menyindir, ada rasa tidak senang dan menjadi komoditi ejekan di lapo-lapo. Masyarakat merindukan adanya hubungan komunikasi yang terjalin dengan intensitas dan kontinutas yang terjaga, tidak hanya dilakukan untuk menggolkan kepentingan sesaat semata. Tetapi dilakukan secara jujur, dari hati yang paling dalam sehingga hubungan kekerabatan tetap terjalin dengan baik, saling memperhatikan, dan menguntungkan bagi kedua belah pihak baik pada saat musim trutung berbuah, maupun tidak. Simbiosis mutualistis. Jika memang ada hubungan kekeluargaan, tidak hanya diperlihatkan pada saat trutung merbuah. Jika tidak demikian justeru kita yang akan menjadi busuk, tidak bernilai dan hanya dijadikan sambal penyedap masakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: