Oleh: pakpaksim | 10 September 2010

Mengekutken Siso Inang

Oleh Muda Banurea

Berada dalam pelukan & lindungan ibu kandung (inang) memberikan garansi kenyamanan dan kehangatan yang amat sangat. Setiap orang selalu merindukan pelukan sang ibu, berada dalam bimbingannya dan  tunduk pada nasehat dan petuahnya. Sangat berbeda dengan ibu tiri, atau seseorang perempuan lain yang menjadi pengasuh kita. Kebaikan hati seorang ibu, ketulusan dalam memberi sesuatu atau kasih sayang, bahkan mungkin kejujuran dalam tutur tidak sepenuhnya ternikmati. Bahkan sebagaimana dikisahkan dalam film “ratapan anak tiri”, seorang anak mengalami siksaan baik phisik, mental maupun siksaan lainnya dari seorang ibu tiri. Meskipun harus diakui, tidak serta merta semua ibu tiri memiliki sifat dan watak yang sama seperti dalam film tersebut.

Banyak legenda tradisionil yang berkisah tentang “siso inang”, tidak ketinggalan cerita-cerita dalam komunitas Pakpak. Sebuah situasi yang sangat tidak diinginkan orang, meski seringkali mau-tidak mau harus dialami dan dirasakan. Hubungan anak dengan ibu meiliki jarak, jauh dari keakraban, kasih sayang dan pelukan mesra.

Dalam tulisan ini cerita semacam itu barangkali hanyalah merupakan analogi. Disebuah negeri, yang jauh terdapat situasi pendidikan yang sepertinya mengekutken siso inang. Sektor pendidikannya menjadi prioritas utama dalam visi pembangunan, tetapi realitas operasional menjauh. Bagaimana mungkin seorang guru agama SMP kemudian diangkat menjadi kepala sekolah SMU di “delelng2”, atau seorang guru TK di daerah “pengkailan” menjadi Kepala SMP satu atap di Leam Tandan, bahkan seorang guru SD dipaksakan menjadi Kasi Kurikulum SMP di daerah Bharata Yudha. Pendekatan kekuasaan agaknya menjadi alasan-alasan penempatannya. Pertimbangan “alang ate” untuk tidak memenuhi permintaan menjadi budaya pemimpinnya. Atau mungkin “persentabin”nya agak lumayan. Meski disadari ada akibat kekisruhan yang akan terjadi dalam sector pendidikan. “Gulut”, karena sang guru agama sama sekali miskin pengalaman tiba-tiba menjadi Kepala Sekolah setingkat diatasnya, sehingga tidak tau berbuat apa. Bahkan guru-guru yang dipimpinnya kehilangan arah kebijakan. Seorang pengasuh anak TK dengan metode pengajaran bermaian, menjadi Kepala Sekolah SMP. Jangan-jangan para guru diinstruksikan untuk bermain-main. Atau pendidikan negeri itu akan menjadi barang mainan. Bagaimana mungkin seorang guru SD akan menyusun Kurikulum SMP, menjadi pertanyaan rakyatnya. “Otang merguru ibages ngi” kata sebagian orang memberi apologi.Katanya nanti akan belajar didalam. Jabatan hanya menjadi tempat belajar dan mungkin belum tamat sudah akan dipiundahkan kejabatan lain.

Argumennya memang dapat diterima, karena bagaimanapun negeri itu tidak mungkin bisa meningkatkan kwalitas pendidikannya dalam waktu singkat. Perlu waktu, perlu proses dan itu akan memakan waktu panjang. Sementara para siswa harus sabar menunggu agak lama. Dan disisi lain para pemerhati pendidikan dan LSM gundah gulana, karena tidak sabar. “roga”, “mbiar” sector-pendidikan tidak akan maju-maju. Sebab akan percuma membuka kelas unggulan, atau menggelar kursus-kursus yang dibiayai pemerintah. Sia-sia menempatkan anggaran 20% dari APBD, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945.

Apa boleh buat, mengekutken siso inang memang tidak mengenakkan, penuh siksaan, butuh kesabaran sampai dewasa lalu kawin dan terbebas dari “api narokko”, dan sulit mendapatkan pengajaran yang benar, bahkan mungkin ada kontempelasi antara ajaran” inang” dengan ajaran “siso inang”. Sang anak linglung bahkan bisa jadi “laling”. Meski dinasehatkan agar bersabar, sang guru dan pejabat kompeten sedang mengikuti kursus-kursus dan diklat-diklat, nanti kalau udah pintar baru bisa mengalir kepada sang anak didik. Tetapi jangan tunggu sampai negeri itu hancur, jangan tunggu sampai nggak ada yang lulus UAN karena standard kelulusan setiap tahun berubah dan meningkat. Dan jangan kembali kejaman dulu, dimana banyak yang buta huruf meski dilaporkan sudah tuntas. “Nong… ale…! (Ide bersumber dari cerita Parulian Boangmanalu di Sibande)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: