Oleh: pakpaksim | 10 September 2010

DILON MANGAN TELLU KALI

Oleh Muda M. Banurea

Pada masyarakat Pakpak, seringkali terungkap keluhan bahwa “kalak pakpak”, dilon mangan pe mahal. Sulit mengaharapkan kedatangan meski hanya untuk makan, atau sulit mengajak makan. Ketika seseorang datang bertamu, apakah “ kiteddoh” atau kunjungan dalam bentuk lainnya, jika tidak membawa seperangkat adat maka dibutuhkan setidaknya tiga kali ajakan, (mengundang untuk makan bersama), agar dapat dipenuhi. Meskipun sang tamu pada dasarnya sudah merasakan lapar. “Mangan kita”, (mari makan) akan dijawab” enggo dahke”(kami sudah makan). Tuan rumah serbetulnya tau persis, karena jarak rumah sang tamu teramat jauh, maka dipastikan belum makan pada jam ajakan itu disampaikan. Jika dilanjutkan, “eta kemo” dijawap pula “enggo ndai i dalan ”. Ajakan ketiga kali tentu setengah memaksa, baru sang tamu bersedia sambil berucap, enggo ngo nimu mangan ndai, tapi oda terjua’ (sebetulnya kami sudah makan, tapi ajakan ini tampaknya tidak bisa ditolak). Dialognya tidak persis seperti itu, tetapi barangkali hanya mengemukakan contoh semata. Saat melahap makanan, lalu akan terlihat rasa lapar yang sudah tertahan beberapa lama.

Kultur demikian terrefleksi dalam aktivitas sosial masyarakat Pakpak. Tidak semata-mata dalam konteks makan, tetapi juga dalam perilaku sosial lainnya. Jika keberadaan seseorang tidak tepat, atau kehadirannya tidak merupakan adat dengan posisi dan kedudukan yang jelas, maka makan dan partisipasi sosial lainnya menjadi sulit dihadiri atau dipenuhi. Itulah sebabnya dalam kerja merbayo, pejaheken berru, rombongan perberru umumnya terbatas hanya diikuti oleh peroles, atau semerdekkoon (kerabat yang betul-betul sangat dekat). Undangan umum lainnya, semisal tetangga, sahabat dan kerabat lainnya umunya tidak ikut, sebab akan dipandang hanya sebatas “tandang mangan”. Kewajibannya sudah dipenuhi pada saat “petalamken” kalau dia nasrani, atau secara khusus ada acara yang diperuntukkan untuk itu oleh perberru beberapa hari sebelum “mata ulan” (puncak acara). Meramaikan acara bukan merupakan kebiasaan bagi masyarakat Pakpak diperlukan kedudukan (perkundul) yang jelas dalam menghadiri satu “ulaan”. Orang akan berhak makan jika memiliki kewajiban yang dibebankan. Artinya tidak ada makan gratis.

Untuk merealisasikan berbagai aspek pembangunan, terutama dalam upaya meningkatkan partisipasi dalam pembangunan maka berkaca pada kultur mangan diatas mutlak dilakukan. Kesabaran Pemerintah dalam mengajak dan membangkitkan partisipasi sangat diperlukan. Tiga kali ajakan barangkali harus dilakukan. Bahkan dalam menerima berbagai bentuk bantuan, kultur demikian juga akan tergambar secara jelas. Inisiatif, menerima dan bermohon demikian terbatas. Akan ditunggu untuk “disungguli” (diingatkan) hingga tiga kali. Itu pun seolah-olah terpaksa, meskipun pada dasarnya sangat diharapkannya. Oleh sebeb itu, barangkali sosialisasi, bintek, pendidikan politik lainnya harus dibangun dengan pola “dilon mangan”. Memberikan pemahaman yang kuat tidak cukup hanya sekali, barangkali perlu tiga kali. Apa boleh buat, kendatipun akan menyita waktu, biaya dan pemikiran, menyesuaikan diri dengan kultur masyarakat yang berlaku perlu dilakukan. Oleh sebab itu, dibutuhkan pola kepemimpinan dengan pendekatan budaya di daerah ini, agar pemimpin tidak mengalami kegagalan.

Pimpinan-pimpinan lembaga teknis pemerintahan, tidak boleh jera, bosan bahkan frustasi untuk mengulang dan menungguli hingga tiga kali. Komitmen yang kuat untuk membangun daerah ini perlu dijadikan spirit agar program, terutama yang langsung bersentuhan dengan public berhasil dan berdaya guna. Jika tidak, “nduma” sebagai suatu cita-cita akan menjadi slogan tanpa pernah mendekati kenyataan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: