Oleh: pakpaksim | 9 September 2010

TOKOH PEJUANG PAKPAK YANG TERCATAT PADA MASA SISINGAMANGARAJA DI TANOH PAKPAK

Oleh : Muda Mawardi Banurea

Dari sisi pencatatan, terutama dalam buku-buku  sejarah tidak banyak tokoh-tokoh putera terbaik Pakpak yang ditemukan. Pengorbanan dalam keikutsertaan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia menjadi seperti terabaikan dalam konteks dokumentasi dalam bentuk tulis. Tokoh-tokoh yang coba dipaparkan ini dikutip dari catatan Adniel Lumbantobing, dalam buku Sisingamangaraja I-XII Cetakan Keenam tanpa penerbit yang dikeluarkan pada Mei 1953.

Sisingamangaraja berada atau masuk ketanoh Pakpak  sekitar Tahun 1894, setelah banyak daerah di keresidenan Tapanuli dikuasai oleh Belanda. Ia berpindah-pindah antara Pearaja Klasen, Simsim dan Keppas. Tidak dalam satu rangkaian perjalanan yang searah, melainkan bolak-balik. Pada saat tertentu ia di Keppas dibawah perlindungan Pertaki Nakan Matah Ujung, kemudian ke Simsim. Ketika ada ketidaknyamanan ia kembali ke Keppas, lalu menyingkir ke Klasen, kembali ke Simsim. Demikian terus menerus berlangsung selama masa penjajahan Belanda. Dari daerah ini ia  memerintahkan panglimanya mengadakan penyerangan melakukan perlawanan kedaerah Toba. Meskipun dalam masa itu sesekali ia tetap muncul di Bakkara. Oleh karena itu beberapa tokoh penting menjadi sahabatnya seperti Pertaki Nakan Matah Ujung di Kalang Jehe, Pertaki Kuta Gugung Salak Pabubu Banurea dan Pa Boncit Padang Pertaki Jambu Mbellang. Ketiga Pertaki ini memberikan kontribusi besar baik dalam memberikan perlindungan kepada Sisingamangaraja maupun menyumbangkan Panglima dan pasukan  untuk sang Pahlawan. Bahkan perlawanan orang Pakpak tetap dilakukan meskipun tidak beserta Sisingamangaraja. Dari suratnya yang ditujukan kepada raja-raja di Keppas terlihat ajakan untuk berperang melawan Belanda. Salah satu surat yang dikirimkannya ketika para raja-raja Pakpak merasa kehilangan komunikasi berbunyi demikian :
“Kami surat dari Sutan Nagaridari pea Radja Dairi, kepada sekalian raja-raja di Keppas. Kamu sekalianadalah setia ber-raja. Sekatalah kami sekalian raja-raja Pakpak untuk berperang melawan Belanda. Bunuhlah Belanda. Aku mendengar bahwa kamu sekalian menyesali aku klarena tidak mengirim surat kepada kalian. Sekarang saya sudah kirim surat. Bunuhlah serdadu, sekian”

Artinya bahwa dengan atau tanpa kehadiran Sisingamangaraja, perlawanan terhadap Belanda tetap dilakukan oleh orang Pakpak.

Sisingamangaraja sendiri sangat mengakui loyalitas dan semangat juang orang Pakpak. Kesetiaan inilah barangkali menyebabkan dia merasa aman berada di tanah Pakpak. Dan dalam rapat para Pertaki pakpak yang dihadiri oleh Sutan Nagari dan Patuan Anggi yang diperuntukkan bagi pengaturan strategi perlawanan terhadap Belanda diperoleh kesepakan sebagai berikut :

  1. Mempertahankan daerah Simsim dengan mengorbankan segala apa yang ada.
  2. Tempat Baginda (maksudnya Sisingamangaraja( dirahasiakan.
  3. Rakyat tidak akan bekerjasama dengan Belanda
  4. Pertanian dipergiat.

Hasil permusyawarahan ini adalah merupakan persumpahan, bahkan disyahkan secara adat pakpak dengan memotong dua ekor kerbau. Seekor di daerah Salak  dan seekor lainnya untuk daerah Kepar Kombih.

Catatan-catatan seperi ini dalam banyak literatur tidak ditemukan, kisah perjalanan Sisingamangaraja di Tanah Pakpak kurang tereksplorasi. Dan buku Adniel Lumbantobing adalah salah satu yang memberikan catatan penting, meskipun teramat singkat dan sederhana. Dari buku tersebut terdapat kisah dari Pejuang Pakpak dalam masa Sisingamangaraja diantaranya sebagai berikut :

  1. Tenna Br. Berutu, Puteri dari parjolang Pertaki dari Pakpak.

Tidak ada literatur yang setegas Adniel mengungkapkan keberadaan  Permasuari keenam Sisingamangaraja ke XII ini. Puteri Pakpak ini berasal dari Penggegen, dan agaknya tidak ada catatan tentang keturunannya. Sejak awal Lumbantobing ketika menuliskan keturunan Sisingamangaraja tidak mengabaikan nama Tenna Br. Berutu. Dan diakui sebagai Permasuri Ke enam. Namun keberadaannya pasca berakhirnya perjalanan Sisisngamangaraja sulit dikonfirmasi. Tidak ada tulisan yang memadai dalam mengikuti keberadaan sang permasuri ini.

  1. Panglima-panglima Sisingamangaraja tidak saja berasal dari tapanuli tetapi juga Pakpak dan Aceh. Dua yang tersohor adalah Singket Berutu dan Rogong Banurea. Keduanya direkrut bukan pada saat persembunyiannya di tanah Pakpak, melainkan dalam perlawanan-perlawanannya diwilayah Tapanuli mereka sudah terlibat dan menjadi Panglima penting dalam perjalanan Sisingamangaraja. Selain dua orang Pakpak terdapat empat orang aceh yakni Tengku Muhamad. Teuku Nali, Tengku Imun, Tengku Ben, dan Teuku Harun
  2. Antak Berutu dari Lae Langge,

Kisah catatan nama ini adalah sebagai berikut : Pada suatu hari  sepasuken tantara belanda berangkat dari Boven Barus menuju kedaereah Simsim, melalui Delleng Simpoon yang sangat curam. Pasukan ini nampak dalam keadaan letih, karena pendakian delleng simpoon, dan tujuh orang diantara pasukan itu tertinggal  jauh debelakang. Sementara itu di delleng telah menunggu dan bersembunyi 4 orang  anggota pasukan gerilya Pertaki Simsim dan dengan beresenjatakan kelewang mereka menyerang 7 orang yang tertinggal tadi. 6 orang diantaranya tertangkap dan dipotong lehernya sedang satu orang diantaranya sempat melarikan diri dengan tangan terpotong. Setelah komandan pasukan Belanda di Salak mengetahui hal itu, direintahkanlah Pertaki-pertaki yang berdekatan agar mengumpulkan penduduk disuatu tempat. Setelah berkumpul komandan pasukan Belanda menyuruh tentara yang kehilangan tangan menunjukkan siapa-siapa diantaranya yang melakukan penyerangan di Delleng Simpoon. Sipenderita lalu menghunjuk Antak Berutu yang berasal dari Lae Langge. Sudah tentu Antak Berutu membela diri dan membantah karena memang tidak tahu menahu keadaan itu, sebab sebetulnya 4 orang penyerang sudah melarikan diri ke Aceh. Oleh karena komandan belanda tidak mengetahui bahasa Pakpak maka Antak Berutu dibawa ke markas. Pada esok harinya orang yang tak bersalah ini dihukum gantung dimuka umum hingga mati.

  1. 4. Pagit Banurea

Dikisahkan di Jambu Mbellang seorang yang bernama Pagit Banure, pekerjaan berjualan sayur dapat merampas senapang dari seorang tentara Belanda. Kebenciannya mendorong untuk melakukan Perampasan dengan memanfaatkan situasi. Hal itu dilakukannya pada saat tentara Belanda sedang merogoh sakunya untuk membayar sayur yang dibelinya. Meskipun tidak diceritakan apakah kemudian ia tertangkap, atau sang tentara digorok seperti di Delleng Simpoon. Kisah perlawannnya yang ditulis Adniel Lumbantobing terlalu singkat. Meskpin dengan menuliskan kisah ini dapat dipahami bahwa peristiwa itu menjadi penting dalam catatan sejarah perlawanan terhadap Belanda.

  1. 5. Ronggur bancin

Nama ini ditemukan dalam buku tersebut sebagai seorang yang menemukan tenpat persembunyian yang strategis di Bungus. Tempat ini menjadi lokasi persembunmyian Sisingamangaraja yang sulit dicari dengan tangga babu yang bertingkat-tingkat. Menurut sejarahnya Kapten Christofel berhasil menangkap Ronggur Bancin dan dibujuk untuk memberitahukan tempat Sisingamangaraja. Dengan loyalitas tinggi Ronggur bertahan dan tidak pernah mau membuka mulut, meskipun disogok dengan emas dan uang. Kapten Christopel marah dan kemudian menyeret adik Ronggur, ia disiksa dan cicambuk dengan cambuk berduri, dihadapan Ronggur sendiri. Teriakan dan jeritan atas siksaan terhadap adiknya tidak menggoyahkannya. Sampai kemudian sang adik meninggal. Setelah adiknya meninggal siksaan dengan cambuk berduri tadi kemudian diarahkan kepada dirinya sendiri. Dua hari lamanya dia menderita akibat siksaan itu, lalu kemudian secara tersembunyi ia menyuruh seseorang untuk menyampaikan pesan agar Baginda Sisingamnagaraja  segera meninggalkan lokasi persembunyian. Ketika ancaman dibunuh dikeluarkan, Ronggur kemudian memberitahukan lokasi lembah Lae Pencinaren di Bungus kepada Belanda. Dan saat Pasukan Belanda berada di lokasi tersebut, Sisingamangaraja dan rombongannya tidak lagi berada disana.

Nama-nama tersbut hanyalah beberapa diantara orang Pakpak yang memiliki peran penting mendukung perjaungan Republik. Ada banyak Pertaki yang memberikan kontribusi dan tidak mau bekerjasama dengan belanda, ada banyak pasukan  yang menyertai Sisingamangaraja termasuk Enam panglima Pakpak yang gugur pada saat pertemburan dengan Pasukan Christoffel di Traju dan lain-lain. Namun nama-nama mereka tidak sempat tercatat dalam buku Adniel Lumbantobing. Mungkin terdapat pada buku lain, meskpin terlalu sulit untuk mendapatkan referensi yang memadai.


Responses

  1. Ku Kopi da puhun, lias ate perjolo, njuah-njuah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: