Oleh: pakpaksim | 9 September 2010

BANTA BOLET….!

mesin-bantuan-yg-terlantar

Oleh Muda M.Banurea

Istilah ini awal populernya di daerah Boang atau Singkil, namun dalam waktu singkat menyebar bagai virus secara cepat ke Dairi dan Pakpak Bharat. Sekarang ini bukan lagi sebagai istilah baru, bahkan mungkin sudah menjadi kamus keseharian bagi masyarakat Pakpak. Dalam bahasa Pakpak Keppas, Pegagan dan Simsim sinonimnya kira-kira “Banta Karina” atau “Kibul Banta”. Yang lain cukup jadi penonton. Bolet bisa jadi pergeseran dari kata bulat. Namun kata ini di Pakpak Boang sudah digunakan menjadi kata Pakpak dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dalam bahasa Indonesia secara bebas dapat diterjemahkan sebagai “Bulat-bulat milik kita”, Milik kita semua” atau “kita yang punya”. Sebuah pernyataan bernada gembira, saat mendapatkan sesuatu yang tidak diduga, atau barangkali permintaan agar sesuatu menjadi milik kita. Tetapi juga bisa menggambarkan kesombongan. Sering dirangkaikan dengan kata”bagi…, banta bolet”. Kalau begitu kita yang punya. Kalau terhadap sesuatu baik itu barang atau berupa materil maupun non materil tidak ada yang mengaku sebagai pemilik, atau jika tidak ada pihak  yang siap menerima. Meskipun ada kalanya merupakan perampasan meski tidak dalam bentuk phisik, tidak ada yang terluka dan merasa haknya terrampas. Ia kemudian dapat menjadi watak atau perilaku.

“Nahaka”, sifat ingin menguasai segala sesuatu, dapat menjadi motivasi munculnya watak “banta bolet”. berkuasa terhadap sesuatu atau keinginan menguasai sesuatu itu. Megalomania.

Tiga tahun terakhir ini, Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat berbaik hati mengumbar berbagai bentuk bantuan khususnya disektor pertanian, perikanan dan peternakan. Visi  mensejahterakan masyarakat lewat sector pertanian sebagai salah satu pilar utama pembangunan di daerah ini mendorong program ini dilaksanakan. Ketidakberdayaan masyarakat dalam permodalan, penyediaan bibit dibantu dengan penyediaan bibit bahkan adakalanya dibantu dengan kompos dan pupuk oleh Pemerintah kepada masyarakat. Program tersebut dianggap merupakan salah satu alternative solusi mengangkat kondisi masyarakat yang masih memprihatinkan kearah yang lebih baik. Program yang disalurkan melalui Kelompok tani itu kemudian mendorong munculnya Kelompok-kelompok usaha pertanian masyarakat. Ada yang serius, setengah serius bahkan mungkin yang tidak serius. Ada kelompok yang betul-betul bekerja secara kelompok, tetapi ada yang hanya menggunakannya sebagai alat untuk memperoleh bantuan. Dan pada kelompok terakhir, terlihat perilaku “banta bolet”. Sebab bagaimana mungkin seseorang dengan lahan terbatas atas nama Kelompok bisa mendapatkan hampir semua jenis bantuan. Ketika ada bibit jeruk ia terima, esoknya ada bibit pisang, nenas, cabe, durian, sampai bibit ikan nila, emas dan bantuan ternak kerbau, babi dan kambing ia juga kebagian. Ia terdafar di lebih dari satu kelompok. Pada masing-masing kelompok tercatat lahannya 1 hektar, yang nota bene itu-itu juga. Ia menanam semua jenis tanaman dalam lahan yang sama. Sehingga tidak focus, semrawut dan akhirnya tidak ada yang terawatt dengan baik.. Bahkan seringkali beberapa jenis bibit tidak sempat tertanami sehingga terbuang dan bisa-bisa disembunyikan di tepi “lae ordi”.

Nahaka betul. tidak peduli ada orang lain yang membutuhkan, ada orang alin yang menatap  dari kejauhan penuh harap. Tetapi karena tidak punya kelompok, atau tidak diakomodir dalam kelompok atau mungkin tidak punya nyali untuk mendaftar dalam kelompok maka ia “lombing” tidak kebagian.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa nahaka dengan statement “banta bolet”  juga bisa merugikan diri sendiri. Perhatian terhadap salah satu jenis tanaman yang diminati menjadi berkurang, tanamannya tidak terawatt, rusak dan pada akhirnya tidak produktif bagi dirinya. Dibanding andaikata dia memberi perhatian terhadap satu atau dua jenis tanaman saja. Akibatnya kelelahan sendiri, capek sendiri, karena terlalu banyak yang diurusi dan akibatnya satupun tidak ada yang berhasil. Muaranya, keinginan untuk mengangkat harkat masyarakat yang didambakan oleh pemerintah mengalami kegagalan. Dan akibatnya Pemerintah juga yang tercoreng, disalahkan bahkan mungkin dimaki. “Banta bolet”, hanya bisa kita lakoni kalau kita mampu, memiliki modal yang memadai, waktu yang luang, dan keseriusan. Jika tidak biarlah “Bai kaltu giam deba…..!

* Ditulis pada pertengahan Tahun 2007 di Bulletin Pakpak “Rintis Prana”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: