Oleh: pakpaksim | 9 September 2010

“CAIR”


Oleh:  Muda M. Banurea


Kata yang cukup sederhana, gampang diucapkan, mudah dicerna maknanya secara harafiah, tetapi ternyata dapat merubah banyak hal. Demikian populernya, dan merakyat di Pakpak Bharat. Ketika ada rapat partai, atau saat ada undangan sosialisasi oleh Pemerintah, Rapat Umum Desa bahkan saat mengajak untuk tetap membudayakan gotong royong yang dikenal dengan “Abin-abin”, maka harus diawali dengan : “ Bakune cair ma?”. Memohon bantuan seseorang harus disertai cair, jika tidak maka kita sulit mendapatkan pertolongan, langka orang yang dapat memberikan bantuan Cuma-Cuma dengan pendekatan social.

Sedemikian dalamya alam kapitalisme merenggut kehdupan social kita, sehingga masyarakat dalam setiap aktvitas  menjadi “Money oriented”. Rapat Umum Desa tidak lagi dianggap sebagai sarana aspirasi pembangunan rakyat, yang membicarakan kepentingannya sendiri. Sosialisasi sebagai tempat pencerahan pemahaman rakyat terhadap sesuatu kebijakan atau perundang-undangan, atau rapat partai sebagai sarana penidikan politik masyarakat, sungguh bukan kebutuhan lagi. Jika menjadi peserta maka harus “Cair” tidak peduli substansi rapat dan sosialisasi tersampaikan atau tidak, didengar atau diabaikan. Akibatnya daya nalar terhadap sesuatu yang disampaikan dalam rapat dan sosialisasi hilang, pemahaman terhadap perundang-undangan terabaikan, pendidikan politik stagnan dan biarlah tetap bodoh (mohon maaf) yang penting “cair”. Menampung aspirasi masyrakat menjadi pekerjaan yang sulit, konon lagi mengharapkan kritisi terhadap kebijakan

Musrenbang desa menjadi sepi karena tidak ada harapan “cair” meskipun itu menyangkut masa depan masyarakat. Lalu jika terdapat pergeseran-pergeseran program yang kurang mengena kepada masyarakat hanya akan disambut dengan “duhul”, “tembohen” dan sejenisnya. Jika anggota DPRD yang dipilihnya tidak menyuarakan kepentingan rakyat, atau manakala Kepala Desa kurang adil dalam pembagian raskin, sulit memperlihatkan reaksi. Mungkin juga karena dulu sudah “cair”.

Betapa dahsyatnya “Cair” merubah pola pikir, karena kecintaan terhadap seseorang diukur daripadanya. Batapa ampuhnya dia merusak tatanan social, karena abin-abin tergantikan dengan honor. Betapa mudahnya watak dan karakter masyarakat yang konon dilandasi adat dan budaya menjadi “sompar baer”, karena tidak lagi “mertampuk bulung merbenna sangkalen” atau” ulang tumbuk bulung”. Bulung-bulung kini habis “tertumbuki”, Tutur sebagai system kekerabatan tidak lagi mempan mengatur tata pergaulan dalam kehidupan kita. Raja, pertaki, permangmang, ulu balang sebagai struktur organisasi Pakpak didalam kehidupan social, hanya lahir jika “cair”, dan tentu bersifat sementara dan berubah-ubah.

Kesepakan, komitmen, perjanjian social, jangan harapkan menjadi “pudun” atau “bulaban”, karena kalau “Cair”, dengan serta merta akan” sursar”. Fenomena ini berada pada ambang batas yang mengkhawatirkan, jika tidak ada lagi perhatian kita untuk membangun mentalitas pembangunan yang baik dan benar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: