Oleh: pakpaksim | 2 September 2010

“BANA LEBBE…!”

Oleh:  Muda Banurea

Di Salak khususnya, atau bahkan mungkin di Pakpak Bharat umumnya, judul diatas merupakan salah satu ungkapan popular ditengah-tengah masyarakat khususnya usia paruh baya kebawah. Manakala melihat seseorang sedang mendekati atau mencapai sukses, saat orang mendapatkan rezeki-rezeki tambahan misalnya diterima jadi PNS, atau saat orang baru saja membeli sepesa motor baru, membangun rumah dll. Secara bebas ia dapat diterjemahkan, “biarlah gilirannya dulu…!”. Ketika ungkapan itu terdengar ada motivasi yang tersirat. Tunggu masanya, pada saatnya kami juga akan mendapatkan kesempatan yang sama, dapat melakukan hal yang sama. Demikian kira-kira  yang bisa ditangkap oleh pendengar. Namun jika mengamati secara cermat mimik orang yang mengucapkannya, maka kesan positif demikian menjadi sirna. Sebab pengungkapan kata-kata tersebut cenderung dibarengi dengan mimik sinis, bahkan mungkin apatis. Sehingga” Bana lebbe…”dapat berubah mencerminkan kecemburuan, antipati atau lebih jauh menjadi “Cian”. Perlu pula diketahui bahwa pembicaranya mengupayakan agar target atau orang yang dimaksud tidak sampai mendengarnya.

Budaya kurangnya pengakuan terhadap kemampuan orang lain bagi masyarakat Pakpak agaknya masih sangat melekat. Memuji secara eksplosif merupakan barang langka. Bertepuk tangan saat orang lain menunjukkan kemampuannya didepan publik demikian mahal harganya. Kemampuan atau kelebihan orang lain tidak dipandang sebagai sesuatu referensi dalam mengeksploitasi kemampuan dirinya. Sehingga tidak perlu dikagumi, dipuji atau menjadi kebanggaan publik. Bagi pemilik kemampuan lebih pada akhirnya juga cukup disimpan bagi dirinya sendiri, dan tidak perlu ditranformasikan kepada orang lain. Tragisnya lagi ia menjadi kehilangan motivasi untuk meningkatkan kemampuannya. Jika bagi orang lain hanya mampu melahirkan “cian”, “ceggo ate” (sirik), tentu tidak diperlukan pengembangan, bahkan mestinya ditarik dari peredaran. Jika saja bisa diulang untuk tidak dilakukan, rasanya akan lebih baik. Ada penyesalan dalam mempertontonkan kebolehan atau kelebihan, karena toh balasannya adalah sinisme. Persaingan dalam arti positif sulit ditemukan, daya juang lemah dan keinginan berubah menjadi lebih baik miskin. Mungkin pandangan ini terlalu apriori dan skeptis, meskipun fakta sosial yang ada mampu memperlihatkan beberapa pembuktian. Dan akibatnya jika kondisi seperti itu benar adanya, maka “bana lebbe…” dalam keseharian mungkin akan  lebih banyak dimaknai secara negative.

“Bana Lebbe…”, seyogianya dapat diartikan sebagai satu motivasi untuk bisa bangkit, otokritik terhadap usaha yang telah kita lakukan namun belum membuahkan hasil, sarana belajar memperbaiki kekurangan dan ketertinggalan yang kita miliki dan mempelajari apa yang dilakukan orang lain sehingga dapat berhasil. Kata-kata ini tidak perlu secara ekstrim harus dihilangkan dalam keseharian kita, tetapi lebih dari itu adalah menggeser pemaknaan kearah positif, sehingga pada akhirnya menjadi “banta nola”. Jika tidak maka pertanyaan yang akan muncul adalah “dahari asa banta…..???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: