Oleh: pakpaksim | 25 Agustus 2010

Mella rumar lessung, mertinencut mo nimu nderu…

Oleh Muda M. Banurea

Jika “Lessung” sudah kosong, seyogianya “Nderu” pasti penuh, demikian kira-kira terjemahannya. Lessung adalah tempat padi ditumbuk, sedangkan nderu alat menampi beras. Jika sebuah kegiatan atau program selesai, pasti ada dampak sebagai output dari kegiatan tersebut, baik menghasilkan materi mapun hasil lainnya. Jika lessung tidak rumar, artinya kegiatan berhenti, tidak terlaksana atau sengaja di”fiktifkan” atau dalam kamus APBD anggaran menjadi SILPA, maka tidak akan ada padi yang perlu ditampi.

Lima Tahun Pakpak Bharat telah dimekarkan, tentu berbagai kegiatan khususnya pelayanan public dalam rangka memberdayakan masyarakat telah dilakukan. Peningkatan anggaran yang bereskalasi mulai dari 3 milliard ke 25 milliard, lalu 125 milliard hingga 230 milliard mestinya membawa dampak berbagai perubahan di tengah-tengah masyarakat dan Pemabagunan di daerah ini. Tidak jalan ditempat, stagnan melainkan penuh dinamika. Lessung birokrasi terus berjalan, berpacu mengedepankan program yang berdampak luas bagi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomis, mengejar ketertinggalan dari daerah lain,mengentaskan kemiskikan, memerangi kebodohan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Lessung-lesssung Dinas pertanian bergerak penuh dinamika, lessung dinas pendidikan berpacu meningkatkan kwalitas anak didik dengan indicator meningkatnya angka lulusan SMU yang diteriam di PTN, lesssung dinas kesehatan  menemui masyarakat dalam rangka menaikkan angka usia harapan hidup dan kesehatan ibu dan anak dll. Meski demikian, harus pula disadari lessung – lesssung memang bekerja, tetapi beras bisa jadi tumpah, sehingga nderu tidak pernah terisi apalagi mertinencut. Atau lesssung terus bergerak, tetapi lambat, sehingga nderu hanya berada pada penantian, seperti menunggu setan lewat. Atau mungkin pula lessung memang bekerja, tetapi padi tidak perlu ditampi, melainkan langsung dimasukkan dalam karung goni, dan lebih parah lagi jika goni itu bukan milik masyarakat Pakpak Bharat lalu dilarikan entah kemana. Meskipun berasnya tidak bersih, sebab juga laku walau harga sedikit berkurang.

Padi mestinya memenuhi nderu, dan kepemilikan nderu adalah masyarakat Pakpak Bharat, masyarakat yang masih miskin, bodoh dan berpenyakit. Jangan menjadi milik pengusaha kilang padi semata-mata, bahkan toke beras dengan system tengkulak. Lesssung digerakkan, tetapI juga bisa  kantong-kantong “penangko” yang penuh, bahkan sampai “more-ore”, sementara nderu petani tetap “merio”. Kegiatan “menapi” sepi, tidak terdengar dentingan beras sebagai satu repertoar lagu, yang enak didengar meski tidak dalam satu harmoni lagu yang teraransemen dengan baik. Alangkah indahnya, jika lessung rumar, maka nderu menari-nari berirama gembira, menciptakan satu orkestra masyarakat dengan pemimpn-pemimpin kita sebagai “conductor”. (Ide bersumber dari cerita Pandapotan Solin di Sukarame)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: