Oleh: pakpaksim | 24 Agustus 2010

Sejarah Kucapi

Oleh : Dayo Sinamo & Muda Banurea

Kucapi adalah salah satu bagian alat musik petik  tradisionil Pakpak yang memiliki sejarah tersendiri, baik pembuatan maupun sejarah penggunaan alatnya. Ia memiliki hubungan emosional antara alat dan penggunanya, sehingga memiliki relevansi dengan perilaku keseharian dalam melakukan aktivitas social. Hampir sama dengan alat musik lainnya, lagu yang dimainkan dari kucapi adalah berupa nyanyian atau dalam bahasa Pakpak dikenal dengan “nangen”. Pada awalnya nyanyian yang didendangkan adalah merupakan nasehat seorang puteri atau dalam kultur Pakpak sering disebut Nantampuk Mas yang ditujukan kepada seorang manusia yang menjelma menjadi kera atau monyet yang dinamai “Sitagandera”.

Kucapi memilki ciri-ciri sebagai berikut :

Kepalanya menggambarkan wajah seorang puteri yang cantik jelita, dalam posisi atau keadaan termenung dan puteri itu adalah “Nantampuk Emas”.

Bagian bawah terdapat gambar atau ukiran seeokor kera atau monyet  dan dinamai “Sitagandera”.

Dibelakang leher kucapi, tempat dimana ibu jari diletakkan melambangkan pendirian atau keyakinan.

Dua kuping kucapI melambangkan pendengaran terhadap keseluruhan nasehat.

Kemudian terdapat empat kruis/ bar nada melambangkan susunan dan kedudukan dalam system kekerabatan Pakpak yang terdiri dari Kesukuten, Puang/ Kula-kula, Dengan Sebeltek dan Berru.

Memilki satu boncit atau pusar, yang melambangkan satu keluarga serumpun

Kemudian pada badannya terdapat gambar dua ekor cecak (braspati) yang melambangkan tendi atau roh

Terdapat tulisan aksara Pakpak “Tampar desa” sebagai penangkal dari segala hal-hal yang buruk.

Konon dahulu, dinegeri Pakpak terdapatlah sebuah kerajaan termashur, yang dipimpin oleh Raja bijaksana bernama “Sihaji” dengan isteri atau permasuri yang rupawan bernama Bindohara. Raja (Sihaji) dikarunia tujuh puteri. Dari antara ketujuh puteri tersebut terdapat anak yang paling disayanginya yakni si bungsu bernama Nantampuk Emas. Perlakuan sang raja kepadanya berbeda dengan putri lain, kerna ia ditempatkan ditempat tersendiri yakni Jerro Silendung Bulan. Ia bermain dan bersendau gurau setiap hari ditempat itu, menyendiri sementara kakak-kakaknya berada ditempat lain dilingkungan istana. Kebutuhannya serba berkecukupan, tidak kurang sesuatu apapun. Hal ini seringkali membuat puteri lainnya cemburu.

.           Sementara itu, ditempat lain terdapat pula kerajaan lain, yang masih memilki hubungan dengan Sihaji. Rajanya mempunyai putera tunggal.

Pada suatu ketika, saat nantampuk emas beranjak dewasa, sebagaimana biasanya perempuan dilingkungan Pakpak, ketujuh puterinya diperintahkan melakukan kikir gigi atau dalam adat pakpak disebut “merlentik”. Agar terlihat lebih cantik sehingga dilirik oleh pangeran-pangeran atau lelaki baik dari negeri sendiri mapun dari negeri lain. Untuk itu ketujuh puteri diwajibkan mempersiapkan alat khususnya “kayu baja”, yang nantinya akan dibakar dimana minyaknya akan dioleskan keseluruh gigi. Diantara ketujuh puteri itu tidak ketinggalan tentunya bagi Natampuk Emas diberikan perintah lebih khusus yakni diharuskan menemukan kayu “baja tonggal” yang disadari sangat sulit memperolehnya. Lalu ketujuh puteri Raja berangkatlah kehutan, mencari kayu baja. Keenam puteri lainnya, lebih mudah mendapatkan barang yang dicari sehingga lebih dahulu pulang ke istana. Sementara Nantampuk Emas, harus memasuki hutan sampai tujuh lapis dan ia berjalan terus selama tujuh hari tujuh malam.

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan Raja Kerajaan tetangga memerintakan pula putera tunggalnya agar berangkat ke Kerajaan yang dipimpin Si haji pamannya untuk meminang salah satu puterinya untuk dijadikan permasuiri. Untuk bisa mencapai daerah Kerajaan Si Haji, dia harus memlalui hutan “rambah keddep”.Ditengah perjalanan terdapat sebuah gua yang sangat dalam dan konon dihuni olah mahluk halus, angker dan jarang orang mau melewati daerah tersebut. Karena menurut kepercayaan tidak seorangpun yang dapat lolos atau mampu melewati gua, karena setiap yang lewat akan lenyap ditelan gua. Ketika sang Pangeran mendekati lokasi gua, secara tiba-tiba terdengarlah suara gemuruh yang sangat memekakkan telinga. Suara gemuruh itu demikian menyeramkan, sehingga bulu roma sang pangeran berdiri. Ia merinding, ketakutan dan dalam hatinya bertanya apa gerangan yang akan terjadi. Dikecam rasa takut seperti itu melahirkan keinginan untuk memperoleh perlindungan yang tidak mungkin diperolehnya, karena ia sadar bahwa ia tidak memilki siapapun ditengah hutan belantara itu. Suara gemuruh itu seakan mendekat kearahnya sehingga menambah rasa takutnya. Tetapi keinginan untuk meminang puteri raja mendorongnya untuk meneruskan perjalanan. Secara tiba-tiba terdengar suara dari arah gua ditujukan kepada sang pangeran, “Kamu hendak Kemana…?” Apakah kamu datang untuk mengotori tempat ini?, Apakah kamu tidak tahu bahwa tempat ini  adalah kawasan terlarang..?” Sang pangeran semakin gemetar, meski demikian ia mencoba memberanikan diri, dengan rendah hati dan ketulusan yang dimilkinya ia membantah “Tidak..!”. Lalu kemudian ia menceritakan maksud dan tujuannya melalui kawasan itu. Mendengar jawabannya, sang penghuni gua kemudian memberikan kesempatan kepadanya untuk lewat tetapi dengan satu syarat bahwa ia akan menjelma menjadi seekor kera atau monyet dan diberi nama Sitagandera. “Pikiranmu memang pikiran manusia, tetapi wujudmu akan berupa kera”, kata sang penghuni gua. Sang pangeran termenung sejenak, ia ragu untuk bisa menerima syarat itu. Sebab dalam pikirannya, mana mungkin Sihaji akan menerimanya apalagi akan melamar puterinya jika ia berwujud kera. Meski demikian ia mencoba menenangkan diri, tekadnya yang kuat untuk melamar impalnya putri Si Haji serta pesan oarngtuanya yang mengharuskan berjumpa dengan sang putri kemudian menguatkan hatinya. Lalu dengan berat hati ia bersedia memenuhi permintaan sang penghuni gua. Dan iapun  dibiarkan lewat.

Ditengah perjalanan kemudian tampak olehnya seorang gadis yang tengah kebingungan dan menangis terisak yang tidak lain adalah Nantampuk Emas. Ia mencoba mendekati dan menghampirinya, dan ketika Nantampuk Emas berpaling dan melihatnya timbullah rasa takutnya.. Melihat itu Tagandera mengurungkan niatnya, ia menatap dari jarak yang agak jauh. Ia menyadari dan memahami rasa takut Nantampuk Emas, dikarenakan wujudnya. Ia mencoba mengamati wajah san puteri, dan mengagumi kecantikannya. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah gadis ini yang hendak ditemuinya. Secara tiba-tiba ia mendekat dan menamgkap tangan sang putri dan seketika membawanya keatas pohon Peldang Sipitu. Ia meletakkan siputeri diatas pohon, dan kemudian mencari sesuatu yang dapat dimakan oleh sang puteri. Secara perlahan sang putri kehilangan rasa takut, dan kemudian perlahan pula mulai menjalin keakraban dengan Tagandera. Mereka  tidak sadar, bahwa selama sekian lama mereka bersendau gurau diatas pohon, dan Tagandera selalu bertugas mencari makanan. Tujuh bulan lamanya mereka hidup bersama dihutan itu, dan hal itu melahirkan rasa saling mengasihi diantara mereka. Nantampuk Emas tidak lagi menghiraukan wujud si Tagandera, dalam hatinya mulai tumbuh rasa sayang. Manakala Tagandera pergi mencari makanan, dalam hati Nantampuk Emas  tiba pada satu keyakinan, bahwa Tagandera merupakan jodohnya.  Ia mengesampingkan keberadaanya sebagai puteri Raja, sementara Tagandera berwujud Kera. Dia berjanji dalam hatinya akan membawa Tangandera ke Jerro Silendung bulan.

Sejak itu  dari atas pohon ia bernangen untuk memberi peddah atau nasehat kepada Tagandera. Ia mengingatkan Tagandera, agar apabila kelak ia membawanya ke Jerro Silendung Bulan dimintakan agar tunduk kepada adat manusia. Ia harus mengenakan kain sarung atau celana, berjalan dengan menggunakan kaki atau berdiri dan tidak melompat-lompat, memakan makanan dengan sopan, harus selalu mandi dan tidur pada waktunya. Banyak lagi nasehat yang disampaikannya untuk dipatuhi Tagandera, dan diiyakan untuk dipatuhi Tagandera. Sekain lama sesudahnya, mereka seia sekata dan membangun “bulaban” (perjanjian atau komitmen), barang siapa diantaranya yang ingkar terhadap perjanjiannya akan mendapatkan bala. Lalu mereka sepakat turun dari pohon Peldang Sipitu, pulang menuju istana Si Haji dan Jerro Silendungbulan.

Setiba di depan istana, kakak-kakaknya menatap dari kejauhan dan melihat adiknya Nantampuk Emas bergandengan tangan dengan seekor kera. Mereka terkejut dan segera melaporkan hal itu kepada Raja. Mereka memprotes perilaku Nantampuk Emas karena bersahabat dengan hewan. Sementara itu, Nantampuk Emas tidak mengacuhkannya dan menceritakan apa yang menjadi komitmen mereka kepada sang Raja. Meskpiun keenam kakaknya mencibir dan mengejeknya. Sang Raja bisa memaklumi permintaan Nantampuk Emas, dan membiarkan Tagandera tinggal didalam istana.

Keenam kakaknya kemudian berembuk dan merencanakan tindakan untuk membunuh Tagandera. (Bersambung)


Responses

  1. Yg ingin Kikir gigi agr rapi tujuan pengobatan hub maskiki di 085310641972


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: