Oleh: pakpaksim | 24 Agustus 2010

Ate-atengi…, dok Potting

Oleh : Muda Banurea

Semau gue, suka hati, like and islaike, terserah akulah, mungkin ungkapan yang sepadan, meski tidak persis sama makna dan pengertiannya. Kebebasan individu yang dijamin dalam undang-undang bisa mengembangkan ungkapan itu didalam perilaku seseorang. Meskipun harus dicatat, kebebasan itu harus bertanggung jawab karena dipagari aturan-aturan, norma dan etika. Seorang pemimpin tidak bisa semena-mena dalam menengeluarkan kebijakannya. Seorang Bupati misalnya terikat pada hubungen kerja yang sinergis dan diatur undang-undang dengan legislatifnya. Kebijakan dan program pembangunan tentu adalah merupakan keputusan bersama sebagaimana tertuang dalam Perda APBD.

Demikian halanya perilaku keseharian kita dalam interaksi soaial. Tidak bisa semena-mena. Kehidupan pribadi kita, akan selalu bersentuhan dengan kehidupan orang lain. Kita hidup dalam satu komunitas sosial yang satu sama lain memiliki kepentingan. Kepentingan-kepentingan itu tentu tidak boleh tabrakan, sebab akan menimbulkan gesekan, gejolak dan keretakan sosial. Tetapi Potting, dalam ungkapannya yang kemudian menjadi jargon keseharian, memiliki alasan tersendiri untuk meneriakkkan “ate-atengi…!”. Ia masih muda, sederhana, dengan melihat kedepan secara sederhana pula dan pragmatis, tapi ungkapannya melegenda. Ungkapan tadi sering dijadikan orang sebabagi sebuah apologi atas sikap yang berlaku sesukanya, atau mungkin sebagai suatu sindiran.

Pada konotasi sindiran, dilapo pernah terdengar ungkapan itu manakala menyaksikan secara kasat mata acara-acara pelantikan pejabat baik karena mutasi, promosi atau degradasi jabatan. Banyak pegawai yang AMPI (bukan nama OKP) tetapi Asal Mutasi Pasti ikut. Ada beberapa contoh, Seseorang misalnya yang baru belajar dan mulai mapan di Diknas dipindahkan ke Bappeda. Disini ia mulai belajar, namun belum sampai pada tingkat pintar digeser dan dikembalikan ke Diknas. Belum beberapa bulan lalu dipindah pula ke Badan Penyuluh Pertanian, lalu ia linglung. Lalap kumessing, sampai kemudian mengget. Seseorang lainnya dari Wakasek dipromosikan ke bidang Lingkungan hidup di Dinas Kehutanan. Mungkin karena latar belakang ilmunya biologi. Tetapi itu nggak lama, karena tiba-tiba ia telah diangkat pula menjadi Kabag. Umum. Tidak diketahui pasti apakah masih ada relevansi ilmu yang dimilkinya. Sejenak ia merasa nyaman diposisi itu, tetapi beberapa bulan kemudian ia dikejutkan dengan kepindahannya menjadi KTIU atau Sekretaris Dinas Kesehatan mungkin juga karena jurusannya biologi. Jadi biologi yang ngurusi surat-surat. Hal itu terjadi dalam waktu yang relatif berdekatan. Dan itupun tidak berumur panjang karena beberapa saat kemudian dalam jabatan yang sama dia dialihkan ke Instansi lain. Yang lain pula, juga mengalami kecelakaan yang sama. Dari Kepala Sekolah SMP Sibande, dipromosikan ke Dinas Pendidikan. Disana ia ada beberapa kali berputar-putar posisi. Pokoknya di-kessing-kessing-kan. Dan tiba-tiba kembali jadi Kepala Sekolah di SMP Jambu, Kecamatan Siempat Rube. Diapun mungkin “mengget” karena sering dipekessing. Hal yang sama terjadi pada sesorang lainnya. Sebentar jadi KTU Dinas Kesehatan, kemudian jadi Kabag Persidangan Sekretaris DPRD, lalu kemudian jadi Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan. Terdengar kabar pula ia bermaksud mengundurkan diri dari jabatan itu,. “Kade ndia masa?” Lebih parah lagi ada yang menjabat Kepala SMP meski hanya PLT, Cuma dua hari, sebab setelah itu ia dipindahkan menjadi Kasek Kecupak PGGS. Mungkin terlalu banyak untuk disebutkan. Pembaca bisa mengget sendiri jadinya. Yang pasti kenapa terlalu sering “kumessing” jabatannya. Maka timbullah ungkapan di lapo tadi “Ate-ate ngi dok Potting..!!! Pertanyaannya kemudian, apa betul begitu.  Memang dalam teori organisasi sebuah organisasi tidak hanya dibangun lewat titik perhatian penempatan karena penguasaan satu bidang. Itu tipe akademi sedangkan pada tipe club lebih menitikberatkan perhatian pada kecocokan dengan  sistem, komitment dan loyalitas. Ada pula yang “mombel-ombel”, sebentar di struktural kemudian dipindahkan ke jabatan fungsional dan tidak berapa lama kemudian dikembalikan pada jabatan struktural. Pada konteks ini Permendagri No. 5 Tahun 2005, mungkin sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan.

Apakah mutasi, promosi dan degradasi diperkenankan dicapai melalui konsep “Ate-ate?”. Mungkin tidak sepenuhnya benar. Karena konon Seseorang diberi tugas untuk melalkukan perbaikan.  penyesuaian  dengan kemampuan, lalu ada katanya terlalu melampaui kewenagangannya, Dan  ada yang memang punya latar belakang kemampuan yang searah dengan tugas barunya. Entahlah jika itu hanya issu. Sebab, jika kebijakan demikian dikeluarkan berdasarkan “ate-ate”, maka kenyamanan bekerja bagi pejabat akan terganggu. Terlalu sulit memahami sepenuhnya selera pimpinan. Dan tentu tidak serta merta selera pimpinan positif. Menurut penulis itu dilakukan setelah dilakukan beberapa kajian, terutama oleh Badan Pertimbangan Jabatan atau BAPERJAKAT. Sebab analisa jabatan ditentukan oleh institusi itu. Dan tentu jika ada pelantikan maka, posisi dan kedudukan seseorang itu adalah produk dari Baperjakat. Dan itulah yang terbaik untuk sementara ini. Jadi bukan “Ate-ate, dok Potting”. Yang perlu dilakukan adalah mengharap kinerja yang bersangkutan dalam mengelola kewenangan dan tugasnya. Sebab semua bermuara pada terwujudnya masyarakat Pakpak Bharat yang “nduma”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: