Oleh: pakpaksim | 24 Agustus 2010

Alang Ate

Oleh Muda Banurea

Dalam bahasa Indonesia kira-kira sinonim dengan sungkan, enggan, segan, dalam bahasa jawa yang sering sudah diindonesiakan ewuh pakewuh. Secara bebas dapat pula diartikan dengan “nggak enak hati”,” nggak tega”. Enggan karena seseorang memiliki kedudukan yang lebih tinggi, atau tutur dalam kekerabatan lebih terhormat, tetapi bisa juga karena seseorang yang berada dalam posisi yang lemah, lebih rendah atau dalam keadaan sakit dan terjepit.

Dalam keseharian, pada acara lelang suatu pesta, ketika standard harga dianggap sudah maksimal maka akan muncul teriakan “alang ate…!. Barang yang dileleang sudah dianggap merupakan harga tertinggi, atau karena batas kewajaran lelang sudah optimal.

Tulisan ini tidak dimaksudkan semata-mata pada pengertian tersebut diatas. Kondisi obyektif budaya perilaku masyarakat Pakpak alang ate, yang pada satu sisi positif sebagai sebuah penghormatan terhadap kedudukan seseorang, atau karena rasa iba terhadap orang yang berada pada posisi lemah tetapi juga pada sisi lain menjadi pathologis dan merugikan. Permalang, menjadi salah satu perilaku budaya masyarakat Pakpak. Seseorang akan merasa sangat segan, sungkan atau ewuh pakewuh melakukan pendekatan terhadap orang lain yang berada pada posisi lebih tinggi dalam beberapa hal. Kendatipun itu keluarga atau kerabat dekat, sahabat akrab atau bentuk hubungan yang kental. Akibatnya silaturahmi tidak terjalin dengan baik, karena secara disengaja membuka jarak dengan mereka. Komunikasi stagnan, hubungan kekerabatan tidak terlihat eksplosif bahkan terkadang menjadi tertutup.

Manakala kita mengalami sesuatu masalah keuangan, atau hal lain yang membutuhkan bantuan seseorang, alang ate menjadi palang pintu penghambat untuk mengkomunikasikan permasalahannya dengan orang lain. Disatu sisi mengharap bantuan namun disisi lain keterbukaan terhadap permasalahan yang dialami tidak ada. Oleh karena itu, permohonan tidak pernah terungkap, tetapi dalam hati terpendam harapan. “Makne diri I idah…!, katanya tetapi hanya dalam hati. Padahal sadar atau tidak sadar orang yang menjadi target mungkin memiliki kesibukan ekstra tinggi, intensitas pekerjaan yang memiliki porsi besar sehingga tidak semua persoalan yang dialami kerabat, sahabat, konco tercover dengan sendirinya. Atau mungkin inisiatif dari yang diharapkan memberi bantuan juga terkendala oleh “alang ate” pula. Persoalan tidak mengemuka, masalah terus melilit, waktu terus berjalan dan solusi tidak juga memperlihatkan dirinya.

Anehnya, disisi lain ada ungkapan yang juga melekat pada perilaku masyarakat pakpak yakni “ Ise memettoh nggatel gurungmu”. Artinya siapa yang tau bahwa kita memilki persoalan, sedang mendapatkan masalah, atau sedang mengharapkan bantuan. Sebuah ambivalensi atau kontroversi yang menjadi penghambat komunikasi. Seharusnya dari ungkapan ini, seseorang diharapkan atau diharuskan mengemukakan apa yang menjadi permasalahannya, jangan mengharapkan orang lain tau, jika tidak disampaikan. Belum lagi kalau orang yang diharapkan memberikan solusi dianggap terlalu mencampuri atau mengintervensi permasalahan kita, karena akan sangat mengganggu bagi harga diri.

Ambivalensi ini dapat berakibat pada retaknya hubungan keluarga, renggangnya persahabatan dan kemacetan komunikasi yang berkepanjangan. Karena dianggap tidak saling menolong, tidak saling memperhatikan dan tidak saling memahami persoalan. Fenomena semacam ini sering terlihat secara kasat mata dalam hubungan kekerabatan masyarakat Pakpak. Ada jarak diantara keluarga dan kerabat, ada gap dalam jalinan persahabatan hanya dikarenakan “alang ate”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: