Oleh: pakpaksim | 23 Agustus 2010

Terjadinya Nama Kayu Parimbalang


Oleh: Dayo Sinamo

Pada Zaman dahulu kala ada disuatu tempat terdapatlah satu keluarga yang sangat rukun, damai dan harmonis. Demikian pula hubungan keluarga dengan pihak Laki-laki maupub kepada Pihak siperempuan selalu saling Bantu-membantu dalam berbagai hal. Dipandang dari segi moral dan perilaku sosialnya keluarga ini telah dapat dikatakan sebagai keluarga yang patut diteladani. Akan tetapi setelah keberapa tahun menjadi pasangan ini menjadi Suami Istri, mereka belum juga memiliki keturunan. Pengharapan mereka hampir  sirna karena buah hati yang mereka dambakan belum juga tiba. Segala upaya sudah mereka lakukan namun pengharapan tinggal penghaapan .

Seperti Pepatah Pakpak disampaikan para orang-orang tua ada berbunyi : “Kade mo lem-lem pagemu pucuk bincoli kabir kabiren ,kade mo kelleng atemu anak daholi janah maholi mahan abingen”. Maka kelahiran anak khususnya anak laki-laki menjadi dambaan. Dan setiap Pasangan dua insan ini mengingat pepatah ini, hati mereka semakin rasa tersayat, sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang jadi penghambat  Hingga akhirnya mereka mendapat petunjuk agar mendatangi “puhun” atau pamannya untuk memohon Doa (Pasu-pasu). Mmereka lalu mempersiapkan oleh-oleh sebagaimana adat yang berlaku, sebagai suatu penghormatan yakni Oles metrin dan Ikan Simalum-malum lalu mereka berangkat menuju rumah paman sebagai kula-kulanya.

Setelah Paman mereka menerima pemberian dari anak Pemupus Tendina, lalu Pamannya pun menyediakan balasan sesuai yang diinginkan mereka. Pagi harinya (perkeke mataniari) Keluarga Pamannya memberi mereka makan yang disebut Nakan Merasa dan Ikan Sampur dengan tujuan artinya : Asa merasa janah sampur mono pasu-pasu  Lalu diberikan oles Pertempi (Pengendong) beras dua liter dalam sumpit, telur ayam satu biji,  kepada istri dari “bere” nya (keponakannya) tersebut, disertai dengan mengucapkan Pepatah Pakpak .”Tubuhen Lak-lak moke tubuhen Cengkeru Saludang angkipangkipen , tubuhen anak mo kene tubuhen Berru janah ulang sakit-sakiten “ yang merupakan restu agar kiranya kelak mereka memperoleh putera dan puteri yang sehat.

Setelah selang beberapa lama, permohonan dan Doa mereka dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Keluarga yang telah lama menantikan keturunan, karena  si Istri melahirkan seorang anak Laki-laki. Tak terhingga kegembiraan keluarga dan termasuk orang tua mereka masing-masing.

Sianak bertumbuh besar dan sehat, sesuai adat Pakpak anak pertama diharuskan Pamannya yang memberi namanya Lalu Pamannya pun membuat satu acara sesuai adat Pakpak untuk Pemberian nama, dan Nama Anak itu diberikan Sipari .Tapi dalam penghidupan dalam hidup ini kadang-kadang ada Suka kadang-kadang ada dukanya Berselang keberapa lama, Sipari satu-satunya anak kesayangan itu seringkali membuat jengkel hati bapa ibunya  Sering menghilang dari Rumah, sehingga orang tuanya sering merasa takut dan panik karena sipari adalah satu-satunya anak tunggal bagi keluarga tersebut kadang-kadang amarah orangtuanya pun tidak dapat bendung. Pada suatu hari, Sipari pergi melalak (keluyuran) tak ingat pulang kerumah. Rupanya ditengah pelariannya dia mulai diserang penyakit gangguan jiwa. Dia memanjat disebatang pohon tak jauh dari rumah. Hari berganti hari, malam berganti malam  Sipari tak kunjung tiba, semua orang sekampung telah direpotkan untuk mencari, namun tak juga membawa hasil. Akhirnya timbul ide yang baru mendatangkan para normal untuk menanyakan apakah Sipari masih hidup atau tidak. Paranormal lalu berupaya dan kemudian mengatakan, bahwa tempatnya sekarang tanggung diatas tanggung dibawah (Cibal mak merbekkas, gantung mak mereket). Menurut tanggapan orang banyak itu diartikan bahwa Sipari sudah Gantung diri. Pada suatu ketika sang Paman mulai hampir putus asa dia keluar dari Rumah ia menuju kayu pohon yang dekat rumah tempat mereka berkumpul, ia bersandar dipangkal pohon tersebut sambil melirik keatas dahan, tiba-tiba ia melihat Sipari sedang tertidur pulas diatas dahan. Ia berteriak sambil memanggil orang banyak agar segera datang ketempat kejadian, membantu agar Sipari diturunkan dari atas. Rupa-rupanya selama Sipari berada diatas pohon itu penyakit yang dideritanya menjadi sembuh, karena kayu tersebut memiliki kelebihannnya Mulai sejak itu Sipari pun menjadi anak yang baik, rajin dan sopan. Kegembiraan para orangtuanya pun pulih kembali Mulai pada sejak itulah pohon itu diberi nama Kayu Tempat Sipari mbalang (Tempat Sipari Hilang) Menurut keterangan para orang tua, sejak itu kalau ada oarng mengalamai gangguan jiwa kayu tempat Sipari Mbalang (Parimbalang) digunakan untuk Beangen (Pasungan) kemungkinan kayu tersebut ada mengandung obat Gangguan Jiwa Demikian tulisan ini mudah-mudahan ada artinya bagi kita bersama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: