Oleh: pakpaksim | 23 Agustus 2010

Alah Si Jurngam Rih Mbara i…

Oleh Muda Mawardi Banurea

Bagi generasi paruh baya ke bawah, istilah ini barangkali tidak cukup dikenal, namun bagi kaum tua mungkin masih ada ingatan terhadapnya, karena dulu istilah ini relative popular.  Istilah ini diduga muncul pada masa perladangan berpindah masih dilakoni masyarakat Pakpak. Rih mbara biasanya dihindari orang karena factor kesulitan dalam mengelola  atau membuka perladangan. Orang umumnya menghindari rih mbara, namun tidak demikian halnya dengan si “Jungam”. Mudahnya memperoleh lahan pada masa itu tidak membuat ia terlena. Sesulit apa pun lahan yang dihadapinya baginya tetap berarti, tetap diahnggap sebagai sumber penghidupan, dan tetap memberikan jaminan hidup sepanjang dikelola dengan baik. Kepada keturunannya penulis terlebih dahulu memohon maaf karena menggunakan nama orangtuanya,  tetapi sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan. Melainkan ingin mengungkap sesuatu yang menurut anggapan penulis sebuah perilaku kerja yang positif dan memperlihatkan spirit yang patut diapresiasi.

Ketika orang lain mencari lahan yang subur, dengan rumput ilalang yang hijau bagi “Jungam”, tidak. Rih mbara, atau bahkan rambah kedep sekalipun baginya sepanjang masih bisa diolah, ia akan kerjakan. Dorongan kebutuhan untuk mempertahankan hidup, untuk memenuhi kebutuhan akan makanan memberinya semangat untuk tetap mengerjakannya. Dengan segala daya upaya, ia akan menjadikan rih mbara menjadi lahan yang layak ditanami padi darat.Dan konon menurut penuturan yang mengenal dengan baik cerita ini, ia berhasil. Bahkan kemudian ia menjadi salah seorang yang memiliki lahan yang luas, yang kelak diwariskan kepada keturunannya. Ia tidak terlalu peduli, kendatipun caranya itu menjadi “pengrehen deba” (olok-olok/mencibir). Meskipun orang lain menganggapnya sepele karena mencari lahan yang sulit ditanami. Padahal masih banyak lahan yang lebih subur.

Kejelian dalam menetapkan keputusan memilih lahan yang jarang dilirik oleh orang lain, menjadi pilihan menguntungkan. Bisa jadi tingkat persaingan dalam perebutan l;ahan menjadi rendah, karena orang lain tidak merasa terganggu. Kenyamanan dan kepuasan bekerja dirasakan ketika mencapai titik keberhasilan, manakala lahan yang dihindari orang justeru memberikan hasil untuk kelangsungan hidup keluarganya. Walaupun dalam prosesnya ia mengeluarkan energi yang labih banyak dibanding  tetangganya, dan mungkin hasil yang didapatinya tidak sebanyak yangh diperoleh oleh orang lain. Tetapi barangkali ia mendapatkan makna lain, bahwa tidak ada hasil tanpa jerih payah. Tidak ada sesuatu yang diperoleh tanpa kerja keras.

Sangat kontras dengan kecenderungan watak pragmatis yang sangat terlihat sekarang ini. Etos kerja yang rendah, spirit yang melemah dan selalu ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah, potong kompas dan mungkin mengelabui orang lain. Akibatnya kerja keras tidak lagi diperlukan, semangat bekerja hanya muncul manakala hasil sudah terlihat didepan mata. Penghargaan terhadap apa yang diperoleh, karena mungkin terlalu mudah, rendah.

Perwajahan yang diperlihatkan “Jungam”, mestinya kita jadikan cermin. Bahwa jika dilakoni penuh semangat, jika didorong oleh etos kerja yang tinggi, sesulit apapun “rih mbara” akan melunak dan tetap menyumbangakn hasil. Kata orang cina, gunungpun bisa dipindahkan. Apakah masyarakat Pakpak memilki etos kerja si “Jungam”. Apakah “ketadingen” yang kita rasakan ini bukan dikarenakan tidak banyak “jungam-jungam” di wilayah ini, atau ketakutan kita menjadi seorang “jungam”, karena mungkin awalnya diremehkan, dicibirkan orang lain, dan “direhe”. Seyogianya kita bisa me”mejan”kan jurngam dalam arti yang positif, menjadi symbol spirit membangun. Simbol kerja keras, dan etos kerja yang baik.(Ide bersumber dari Cerita Pa Juna Banurea di Mabar Salak )


Responses

  1. pertamax…. muantap bang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: