Oleh: pakpaksim | 23 Agustus 2010

Alah Si Jurngam Rih Mbara i…

Oleh Muda Mawardi Banurea

Bagi generasi paruh baya ke bawah, istilah ini barangkali tidak cukup dikenal, namun bagi kaum tua mungkin masih ada ingatan terhadapnya, karena dulu istilah ini relative popular.  Istilah ini diduga muncul pada masa perladangan berpindah masih dilakoni masyarakat Pakpak. Rih mbara biasanya dihindari orang karena factor kesulitan dalam mengelola  atau membuka perladangan. Orang umumnya menghindari rih mbara, namun tidak demikian halnya dengan si “Jungam”. Mudahnya memperoleh lahan pada masa itu tidak membuat ia terlena. Sesulit apa pun lahan yang dihadapinya baginya tetap berarti, tetap diahnggap sebagai sumber penghidupan, dan tetap memberikan jaminan hidup sepanjang dikelola dengan baik. Kepada keturunannya penulis terlebih dahulu memohon maaf karena menggunakan nama orangtuanya,  tetapi sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan. Melainkan ingin mengungkap sesuatu yang menurut anggapan penulis sebuah perilaku kerja yang positif dan memperlihatkan spirit yang patut diapresiasi.

Ketika orang lain mencari lahan yang subur, dengan rumput ilalang yang hijau bagi “Jungam”, tidak. Rih mbara, atau bahkan rambah kedep sekalipun baginya sepanjang masih bisa diolah, ia akan kerjakan. Dorongan kebutuhan untuk mempertahankan hidup, untuk memenuhi kebutuhan akan makanan memberinya semangat untuk tetap mengerjakannya. Dengan segala daya upaya, ia akan menjadikan rih mbara menjadi lahan yang layak ditanami padi darat.Dan konon menurut penuturan yang mengenal dengan baik cerita ini, ia berhasil. Bahkan kemudian ia menjadi salah seorang yang memiliki lahan yang luas, yang kelak diwariskan kepada keturunannya. Ia tidak terlalu peduli, kendatipun caranya itu menjadi “pengrehen deba” (olok-olok/mencibir). Meskipun orang lain menganggapnya sepele karena mencari lahan yang sulit ditanami. Padahal masih banyak lahan yang lebih subur.

Kejelian dalam menetapkan keputusan memilih lahan yang jarang dilirik oleh orang lain, menjadi pilihan menguntungkan. Bisa jadi tingkat persaingan dalam perebutan l;ahan menjadi rendah, karena orang lain tidak merasa terganggu. Kenyamanan dan kepuasan bekerja dirasakan ketika mencapai titik keberhasilan, manakala lahan yang dihindari orang justeru memberikan hasil untuk kelangsungan hidup keluarganya. Walaupun dalam prosesnya ia mengeluarkan energi yang labih banyak dibanding  tetangganya, dan mungkin hasil yang didapatinya tidak sebanyak yangh diperoleh oleh orang lain. Tetapi barangkali ia mendapatkan makna lain, bahwa tidak ada hasil tanpa jerih payah. Tidak ada sesuatu yang diperoleh tanpa kerja keras.

Sangat kontras dengan kecenderungan watak pragmatis yang sangat terlihat sekarang ini. Etos kerja yang rendah, spirit yang melemah dan selalu ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah, potong kompas dan mungkin mengelabui orang lain. Akibatnya kerja keras tidak lagi diperlukan, semangat bekerja hanya muncul manakala hasil sudah terlihat didepan mata. Penghargaan terhadap apa yang diperoleh, karena mungkin terlalu mudah, rendah.

Perwajahan yang diperlihatkan “Jungam”, mestinya kita jadikan cermin. Bahwa jika dilakoni penuh semangat, jika didorong oleh etos kerja yang tinggi, sesulit apapun “rih mbara” akan melunak dan tetap menyumbangakn hasil. Kata orang cina, gunungpun bisa dipindahkan. Apakah masyarakat Pakpak memilki etos kerja si “Jungam”. Apakah “ketadingen” yang kita rasakan ini bukan dikarenakan tidak banyak “jungam-jungam” di wilayah ini, atau ketakutan kita menjadi seorang “jungam”, karena mungkin awalnya diremehkan, dicibirkan orang lain, dan “direhe”. Seyogianya kita bisa me”mejan”kan jurngam dalam arti yang positif, menjadi symbol spirit membangun. Simbol kerja keras, dan etos kerja yang baik.(Ide bersumber dari Cerita Pa Juna Banurea di Mabar Salak )

Oleh: pakpaksim | 21 Februari 2011

“PATEMPUS “ APAKAH SAMA DENGAN “GURU PATIMPUS”

Oleh : Muda M. Banurea

Pada masyarakat pakpak, nama panggilan tidak selalau menggunakan nama baptis bagi orang kristen atau nama menurut islam. Nama panggilan sama sekali berbeda dengan yang tertuang dalam akta kelahiran. Biasanya nama panggilan yang digunakan adalah sinonim dari nama aslinya misalnya Sempit akan dipanggil Papecet (Sempit dalam bahasa Pakpak) atau seseorang yang bernama Muda akan dipanggil Pabibi, (padi yang mulai mengandung buah artinya masih sangat muda), atau nama yang mirip dengan peristiwa sebelumnya misalnya Noak (Nuh) akan dipanggil Paparao (Perahu sebagai simbol peristiwa air bah zaman Nabi Nuh), atau lawan kata seperti Tigor (Lurus)  akan dipanggil Pa bekkuk (Bengkok), atau dari kebiasaan seseorang misalnya orang suka membawa “tempusen” (gendongan yang terbuat dari kain sarung sebagai tempat perbekalan, baju dan kebutuhan lain) akan dipanggil Patempus. Bisa juga karena nama yang sama pernah dipakai orang terdahulu dan memeilki watak tertentu juga diwariskan kepada pemilik nama generasi berikutnya. Misalnya pernah ada nama Putaget kepada pemilik nama Viktor, maka setiap orang yang bernama Viktor akan dipanggil Putaget. Atau sesorang yang bernama Pasurira yang konon karena ilmu yang dimilkinya menjadi terlarang untuk mandi sehingga orang yang jarang mandi akan dijuluki juga dengan nama Pasurira. Sehingga orang sering lupa dengan nama asli dari seseorang. Jika kita mencari orang dengan menggunakan nama sebagaimana tertuang dalam akta lahir maka akan tidak dikenal dan cenderung sulit ditemukan.

Bagi masyarakat Pakpak dari antara Pitu Guru Pakpak Sendalan ( Tujuh Guru Pakpak (Orang Pintar) yang selalu berjalan satu rombongan) dipercayai bahwa seseorang diantaranya bernama Patempus. Karena dia selalu membawa gendongan kemana-mana, dan pergi merantau ke tanah Karo dan tidak pernah kembali ke Pakpak. Dalam tempusen Patempus selain terdapat pakaian juga berisi ramuan obat-obatan bahkan air dan tanah yang dibawa dari tanah leluhurnya. Obat-obatan tersebut selalu diberikan untuk menyembuhkan penderita sakit tertentu, yang dijumpainya dalam perjalanan hingga ke karo. Bahkan sesampai di karo dengan meminum air yang dibawanya dan bersumpah bahwa jika air yang diminumnya bukan air leluhurnya maka ia akan binasa, dan apabila tanah yang didudukinya bukan tanah leluhurnya ia juga akan binasa, tetapi orang yang mendengar sumpah tidak mengetahui bahwa dia sebelumnya telah mengambil segenggam tanah yang dibawanya dari Pakpak dan meletakkannya di tanah sebelum ia duduk. Berdasarkan sumpah itulah ia kemudian bermukim dan memilki hak atas tanah yang didukinya di daerah Karo.

Guru Patimpus yang dipercaya sebagai pendiri kota Medan. Dan konon Medan berasal dari kata Mejan (yakni patung gajah yang diukir dari batu bulat atau di Pakpak disebut Batu sada). Beberapa catatan tentang kota Medan menyebutkan bahwa Mejan banyak terdapat di Karo. Padahal fakta menunjukkan bahwa Mejan hanya ada di Pakpak bukan di Karo. Dan benda purbakala tersebut sangat terkenal dan monumental di daerah Pakpak. Hampir tiap marga memiliki Mejan baik dalam bentuk patung gajah yang ditunggangi seseorang, mejan pakalima yang sering dihidupkan dalam rangka menghalau musuh dalam graha (perang) yang berbentuk kepala manusia, bahkan jika akan terjadi sesuatu apakah kedatangan musuh, bencana alam, atau bencana lainnya ia akan mwengeluarkan suara sebagai aba-aba, mejan perabuun berbentuk rumah, sebagai tempat abu jenazah. hal ini berlaku karena masyarakat umumnya menganut hindu dan mayat selalu dibakar. Itulah sebabnya tidak ditemukan pekuburan tua di Pakpak,  dan mejan lainnya. Jika hal itu benar maka akan menimbulkan pertanyaan dimana Guru Patimpus pernah melihat Mejan, dan bagaimana pula nama itu muncul dari pikirannya, jika di tempat asalnya benda tersebut tidak populer. Penyebutan nama kota tersebut tentu tidak serta merta muncul begitu saja tanpa satu memori yang kuat dalam pikirannya. Memori itu akan tertanam tentu oleh karena pengalaman melihat, mendengar dan menjamah yang dalam tempo cukup lama dan tidak sepintas. Pengalaman itu tentu diyakini ada pada Guru Patimpus.

Guru Pakpak Pitu Sendalan

Beberapa fakta tersebut bagi orang Pakpak menduga bahwa Guru Patimpus adalah Patempus yang pernah bertempat tinggal di Karo dan kemudian berkelana melanjutkan perjalanan hingga ke tanah Deli. Disana ia mengadu ilmu yang dimilikinya dengan orang pintar tanah deli dan karena keunggulannya ia kemudian terkenal dan menjadi tokoh besar di tanah Deli. Dalam perjalanan hingga tiba diwilayah itu ia tetap membawa “tempusennya”. Disini ia dapat bermukim dan dihormati karena berbagai keahlian yang dimilikinya khususnya dalam pengobatan tradisionil. Meskipun sebenarnya Guru Pakpak Pitu Sendalam sangat tidak dikenal di daerah asalnya, di tanah Pakpak. Di pakpak mereka mungkin hanya menimba ilmu semasa kecil hingga dewasa, sedangkan aplikasinya dipertunjukkan didaerah rantau. Artinya orang Pakpak sendiri kurang mengenal dan memahami keahliannya. Inilah yang menjadi penyebab mereka kurang dikenal di Pakpak. Tetapi dalam legenda daerah rantaunya mereka sangat dikenal dan ditakuti. Di daerah Karo misalnya nama tersebut cukup akrab ditelinga masyarakatnya. Ketujuh Guru tersebut pada akhirnya menyebar bahkan dipercaya ada yang hingga ketanah melayu, Malaysia. Bagi Pakpak ketujuh guru adalah misteri, dan hingga kini masih dalam pencarian siapa mereka sebenarnya dan keturunan marga apa.

Oleh: pakpaksim | 21 Februari 2011

KASA “CENG-CENG” JADI RAJA


Oleh : Dayo Sinamo

Ipas sada katika memaing runggu mbelgah ngo manuk-manuk si lot I aur en, imo lako menobatken sada raja tarap  sada jenis manuk-manuk. I utus mo sada manuk-manuk lako ki mong mongken mendahi nasa manuk-manuk, asa roh karina kalaki lako mengekuti runggu idi. Ipas mong-mong I  ibagahken mo ari runggu bahanen I ari beraspati bulan pewaluhken.

Dapet kessa  bulan dekket arina jumpa bali bana, roh mo karinana nasa manuk-maniu mi bekas si enggo I tentuken. Tikan lako mengangkat  sada raja i, ipido pandangen dekket pendapat bakune sientengna terenget penobaten raja manuk-manuk. I tumulai mo narap manuk-manuk si mbelgah na nai. Roh mo Kaliki mendokken, ”aku mo jadi raja, kmumerna aku boi ngkabang ndaoh janah karina ngo manuk-manuk sideban mbiar taba aku. Mella nggo mentas aku, karina manuk-manuk ciboni”, nina maing pendapetna. Tapi roh mo runggu menimbangi kaliki, nina mo “oda ndorok ko jadi jadi raja, kumerna jukut denganmu  ngo I pangan ko,  janah roh kessa ko menter karina ngo kami kipesisi”. Kessa I mongkam nola mo  Enggang mendokken, “aku mo jadi raja, aku ngo si mbelgah na janah sorangku ngo si nggang na, ndaoh deng pe aku enggo I bettoh kalak aku lako roh”., Roh mamo runggu menimbangi  nina  “oda boi kerna mbelgah ngket sora nggang sambaing jadi raja kerna gabe mbiar nola ngo karina dengan-dengan mu”. Kesaa bagi roh mamo Uwo maing pendapetna mendoken “aku mo jadi raja, kerna daging ku mbelgah, sorangku pe nggang, rupangku pe merandal, ceggen kessa jengkas ngo aku mersora, mendungoi, asa ndor kene karina ndungo”. I timbangi runggu mamo pendapetna I mendokken, “oda boi ko jadi raja, kerna ibaing sada rambar buluh ntajem sambaing pe enggo nggettap kerahongmu”.

Enggo piga-piga manuk-manuk maing pandangen, tapi oda deng lot cocok iakap runggu. Kernan nai roh nola mo torngak-torngak nina mo “ aku mo jadi raja, kerna bage sorangku ngo ukurku. Guru dokku-guru dokku, bagi ngo sorangku. I asa patuh mo nahan karina kene mendahi aku”. Tapi roh mamo runggu menimbangi mendokken “ kono pe oda boi jadi raja, kumerna sada rambar timan pe itogongken anak-anak, nggo mo ko dapetsa, tapi guru dokmu nimu karinana”.  Kessa bagidi roh nola mo ndukur nina mo “ aku mo jadi raja aku mene-mene ngo janah sorangku oda pella nggang”. Runggu menimbangi, “makin ko nola, oda boi. Mene-mene ngo ko tuhu, bagima soramu oda nggang, tapi olong lampas dekket katimukmuk ngo panganmu”. Roh nola mamo kerap mendokken, “aku mo jadi raja, kerna bage sorangki mango ukurku. Barang kade ipermasalahken tuk urkuku-tuk urkuku, ningku ngo”, nina ma. Tapi dok runggu menimbangi, kope oda boi jadi raja, kerna oda ko pernah mengula, oda ma pernah merani, tapi page ni deba ngo dak ipangani ko. Asa mella dapet sidasa page ko, ikurung-kurungi ngo kono”.

Enggo mbue manuk-manuk maing pendapetna, tapi sada poda deng tok iakap runggu i. janah oda ne lot ise pang mengasangken dirina mi runggu I, kerna dak tong ngo iakap lot kekurangenna. Kerna enggo karina manuk-manuk I sip, sempusta roh mo cengceng mendokken bagen, aku mo jadi raja, lot alasenku. Kami sikedekna tarap karina manuk-manuk, janah oda mergeggoh. Isa oda kuantusi kami kade man asangkenen name. tap imbue merkelleng ate taba kami. Mentas kessa kami, menter mbue ngo mengekutken kami ipodi nai. Cabi, tasking, kalomaha, bistuak, kurlet bagi ma ribu-ribu, mike pe kami laus karina ngi mengekut. Ingo asa kami makne mbiar marang mike, kerna gabe mbue ngo kami sidalanen”. Bage sibengap mo karina siroh irunggu I, janah kumerna cengceng ndai oda mengasangken kelebihenna, janah iakkui ma kekurangenna oda mboni-mboni, gabe tubuh mo ukur percaya mendahi karina. Janah gabe Sada kata sada arih mo karina manuk-manuk, rebbak mengoangken mo kalaki, cengceng ndai mo ibaing  jadi raja. Kessa I mo asa ibaing gerarna “cengceng raja”. Tapi bagi pe, oda ngo karina manuk-manuk ndai menguei kesepakatan idi, lot mango piga-piga mengalo keputusen idi. Terbettoh kessa bagidi, ibaing runggu imo arih asa mendahi manuk-manuk siso menguei kesepakaten, iabing mo hukumen, asa oda boi nenge kalaki menulusi panganna ipas terang ari, kennah berngin mo. Kumernanai I gancihi mo penengen matana menjadi penengen berngin, makne merpendidiah tikan terang ari. Mnauk-manuk idi ndai imo lengkupa, sibongkel, sibiangsa dekket sidebanna.

Bagi mo cituk sukuten cengceng raja en, janah belli mo kene karina mengarusi lapaten dekket pengantusin arti ni sukuten en. Bage umpama mo kudokken, ndabuh sirimo mungkur, itinggang kayu ibiding dalan. Mendahiklen kene partua singgedang ukur, simunurat en ue ngo mahan ajaren. Lias ate.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“LABA DENG MA”

Oleh Dayo Sinamo

I ngelluh en karina ngo kita mengula ulan ,sinasa terula barang pe terbahan deng.  Oda ngo merleja-leja karina I,bakune mo asa merlaba janah asa mende  kenggeluhen rumah tangganta meraduna. Oda mettoh lejja, oda mentadi, oda murah mendelle asal deng ma keppe ntua daging makne lot geggoh. Tapi bagipe tentu  perlu ngo man jagan kesehaten  ket keselamatan. Lebbe lejja janah mukupen ngo asa kennan laba.

Arnia lot mo  sada partua, menangkih kemenjen ngo ulanna. Ipas sada katika  lako susur mo ia ibatang kemenjenna nai.  I sigih mo sada batang kemenjen silot I rbe – rben, I eket mo plang-plangna dekket  tenali I batang kemenjen na en, asa merduruh merdengan merodong-odong ia. Kessa I balik mo ia mi kuta. Enggo kessa lot sibar empat bulan, laus mo ia  mi delleng mendahi batang kemenjenna, mengagahi tah nggo merduruh  tah oda. I dahi mo  batang sinitinaliken na merkite odong-odong ikin. I idah mo merkire duruh nai janah  lolo mo atena, simpusta mo ia mersurak “o….o…o labangki” nina. Siso pemetohna lot kin keppeken sada balkih medem I teruh batang kemenjen i. Nai tersengget mo balkih ninganna mangkat. termbah mo dekket duruh kemenjen I, gabe I buluti mo balkih I, ngulang mo ia mi napa janah ndabuh mo mi sada namo-namo. I namo I mbue ikan kapperas na, gabe mbirsak mo laena janah mermastaken mo ikan ndai mi darat. Tikan ngulang balkih idi tersengget mamo sada imbo, ndabuh janah menter mate. Laus mo partua en  mendahi mi napa-napai  idah mo balkih ndai nggo mate. Lolo mamo atena janah  I dokken ipas ukurna “laba deng ma kppe”, katena.  Idah nola ma mo kepperas ndai nggo darak I darat, laba deng ma, katena. Kessa i idah nola ma sada imbo nggo mate ”laba deng ma” nina tole. I lapah lapah mo  balkih deket imbo I, janah I pilihi mo ikan kaperras sibagakna, I tabah mo sada buluh menguda mahan tinali ( belembang ) janah I taku. I bagas mbalar ipe mbue ma lako mebellah buluh I, I sampet  mo sada manuk manuk janah ndabuh laba deng ma, Kessa I Itabah mo sada nai buluh tua mahan lanja –  lanja  moras mo buluh I gabe I pantul mo I tanoh sada peddi laba deng ma nina.

I tustusi mo gule ndai janah I rakuti mi lanja- lanja na lako balik mo ia. I persan mo lanja nai mertuhu tapi tuhu  oda piga langkah deng ia langkahken tersondalih mo nehena janah tergempang. Gabe I dendeni embahen nai mo ia janah mate. Isa oda karina laba kppe jadi olih. Janah oda bahan menghakai. Sibar siterpersan ngo kessa asa olih.

 

Oleh: pakpaksim | 21 Februari 2011

KALENDER (PENANGGNALEN) PAKPAK


1. TANGGAL ATAU HARI

Penanggaalan atau kalender Pakpak  pada mulanya dihitung dari lobang sebuah tempurung yang sebelumnya telah dilobangi sebanyak 30 lobang. Setiap lobang  diisi dengan seutas tali yang kemudian setiap hari tali tersebut ditarik sampai kemudian semua lobang kosong, dan seterusnya diisi kembali. Setiap penarikan tali dilakukan penyebutan harinya . Jika secara internasional dan nasional penanggalen dinyatakan dengan angka, maka pada masyarakat Pakpak hanya dikenal nama hari. Saesuai dengan jumlah lobang sebanyak 30 maka hari dalam Pakpak terdiri dari 50. Dan hari ini adalah sekaligus merupakan tanggal. Nama-nama hari dalam  masyarakat pakpak tersebut adalah :

Adintia, Suma, Anggara, Budaha, Beraspati, Cikerra, Belah naik, Adintia naik, Suma sibah, Anggara sepuluh, Budaha mengadep, Beraspati tangkep, Cikerra purnama, Belah Purnama Tula, Suma Teppik, Anggara Kolom, Budaha Kolom, Beraspati Kolom, Cikerra duapuluh, Bellah Turun, Adintia Anggara, Sumanimate, Anggara Bulubana, Budaha selpu/meddem, Beraspati Gok, Samisara bulan mate, Dalan bulan dan kurung. Budaha selpu juga sering dinamakan budaha meddem, sedangkan cikerra adapula yang menyebut dengan cukerra. Samisara bulan mate sering juga disebut dengan Samisara mate bulan.

Setiap hari atau tanggal dalam Pakpak masing-masing memiliki arti dan makna. Hari-hari tersebut tidak dapat digunakan untuk melaksankan sebuah pekerjaan secara acak. Masing-masing ada hari yang baik misalnya dalam melakukan runggu, pesta, berladang, mendirikan rumah dan lain-lain. Ada hari yang kurang baik untuk itu sehingga misalnya jika sebuah runggu dilaksanakan pada saat yang tidak tepat maka yang timbul bisa jadi adalah perselisihan atau pertengkaran sehingga runggu tidak akan mencapai mufakat. Oleh karena itulah orang Pakpak sebelum melaksanakan sesuatu kegiatan akan terlebih dahulu dilakukan “meniti ari” untuk mencari hari yang tepat dan sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal semacam ini bagi banyak orang pakpak masih diyakini hingga kini meskipun tidak banyak lagi orang Pakpak yang hapal akan nama-nama hari tersebut. Konon lagi makna, arti, dan kegiatan yang tepat pada hari dimaksud. Orang yang masih hapal terbatas dan kini dianggap menjadi semacam orang pintar.

2. JAM

Dalam ukuran waktu secara internasional dan nasional diketahui bahwa satu hari dan satu malam terdiri dari masing-masing dua belas (12) jam. Dengan demikian satu hari satu malam adalah dua puluh empat (24) jam. Sedangkan pada masyarakat Pakpak dalam satu hari dikenal lima (5) ketika dan satu malam juga lima (5) ketika. Satu hari satu malam adalah sepuluh (10) ketika dimana jarak antara satu ketika dengan ketika lain adalah masing-masing 2 jam 14 menit.  Ketika tersebut dinamai sebagai berikut : 1. Keke Matawari, 2. Rungrung gelang-gelang, 3. Ceger Ari, 4. Kandang Kerbo, 5. Cibon, 6. Tangkep Koden, 7. Sipeddem anak-anak, 8. Tengah berngin, 9. Takuak manuk sekali, 10. Takuak menjejeri. Penyebutan ini cenderung diambil dari masa satu kegiatan atau peristiwa yang dilakukan sehari-hari, dan keadaan atau posisi mata hari.  Pagi misalnya disebut keke matawari atau ketika matahari mulai bangkit dan terlihat, Kandang kerbo dimaksudkan masa untuk mengkandangkan kerbo, kemudian Tangkep koden dimaksudkan masa setelah selesai memasak nasi sehingga periuk sudah dicuci atau dibersihkan dan dibalikkan, atau sipeddem anak-anak dimana waktu ini dinamai sebagai masa anak-anak tidur. Demikian juga nama-nama lainnya.

Oleh: pakpaksim | 16 Desember 2010

KUSOHKEN MO

Cipt. NN

Kusohken mo, ikarina rananta sidua

Ku ueken pe, ikarina janjinta sidua

Kpeken turang mobah ma’m ukur mi

Kumernaken roh mang anak sideban

Kpeken turang mobah ma’m ukur mi

Kumernaken roh mang anak sibeak i

 

 

O…ho…ho nange

Mpersah ni turang

Atengki  pusuhki pe nggo ceda

O…ho…ho nange

Mpersah ni turang

Atengki  pusuhki pe nggo ceda

 

Mike mo ndia

Diri laus merembah ukur ceda

Kono naing laus

Ko naing laus oda giam mertennah

 

Giamken turang ncayur ntua moko

Mengekutken kelleng ni atemi

Giamken  turang ncayur ntua moko

Mengekutken kelleng ni atemi

Oleh: pakpaksim | 16 Desember 2010

KAYU I BIDING DALAN

Cip. Muda M. Banurea

O ale turang

Ulang moko tuitsu

Mbue  janah lagakmu,

bagi ndates ukurmu

Mparas ngo kum rupamu

Mbentur ngo kum abemu

Tapi pekilakomu

Kurang ngo cumannna

 

Bage perbuah ringadar ngoko

Mende idarat macik i bages

Oda deng giam kerri puntung

Nggo mompat nola kelleng atemu

 

Kelleng atemu. Kelleng perdori dapdap

Bias mo pellin idarat sambing

 

Jaga mo ko ale turang

Ulang bage kayu ibiding dalan

Pate-pate itakili golok ko turang

Pate-pate itakili golok ko turang

 

 

 

 

 

Oleh: pakpaksim | 16 Desember 2010

NDEPPUR ANGIN I DELLENG

Cipt. NN

NDEPPUR MO ANGIN IDELLENG BAPA

MAYUN-AYUN MO BULUNG RINTUA

NEPPUR MO DAGINGMU MBELEN LBAPA

JANAH MELAUN MO DAGING MU NTUA

 

NDOR KO MBELGAH

NDORKO MBELGAH DA BAPA

ASA LOT MERDILO MANGAN DA BAPA

 

NDEPPUR MO ANGIN IDELLENG BA PA

OTANG ROROHON MO SISAMPURAGA

NDEPPEUR MO DAGINGMU MBELLEN BAPA

ASA NDOR  KONO  LAUS  MERSIKKOLA

 

NDOR KO MBELGAH

NDORKO MBELGAH DA BAPA

ASA LOT MERDILO MANGAN DA BAPA

Oleh: pakpaksim | 13 November 2010

NDERSA TADING MELUMANG

KucapiCipt. NN

NDERSA TADING MELUMANG

MADA MERBAPA MADA MERINANG

MERPIS MATA KALAK KARINA

SISADA DIRI MENJADI HINA

 

NGALE NDERSA NAI

SISO BERPA INANG I

NGALE REJEKI NI

SIMERBAPA INANG I

 

NDOR KO MBELGAH, NDORKO  NGGEDDANG

MENGELAI BANA` M KO GIAM TENDI

 

KALAK MELA MELEHE

LOT INANGNA MERDILO MANGAN

KEPPEKEN ANAK MELUMANG

TADING MO IA MERNAKANKEN ANGIN

NGALE REJEKI NI

SIMERBAPA INANG I

NGALE REJEKI NI

SIMERBAPA INANG I

 

Oleh: pakpaksim | 13 November 2010

KIPUDUNG

Sarune

Cipt. NN

BAKUNE MO NINGIN KIPUDUNG LE TURANG

PERBANTON NGO JEHEN PARIRA

BAKUNE MO NINGIN MENUNGKUN LE TURANG

PERBAYON NGO KIDAH KARINA

NINA NOLA NINA

LE NINA NOLA NINA

LE NINA NOLA LE NINA NOLA

PERBANTON PE JEHEN PARITA LE TURANG

KALIMPETPET MO IPALA SARI

PERBAYON PE GIA KARINA LE TUTANG

MPET-MPET MO GIAM MENCARI

NINA NOLA NINA

LE NINA NOLA NINA

LE NINA NOLA LE NINA NOLA

NDEPPUR ANGIN I DELLENG

Cipt. NN

NDEPPUR MO ANGIN IDELLENG BAPA

MAYUN-AYUN MO BULUNG RINTUA

NEPPUR MO DAGINGMU MBELEN LBAPA

JANAH MELAUN MO DAGING MU NTUA

NDOR KO MBELGAH

NDORKO MBELGAH DA BAPA

ASA LOT MERDILO MANGAN DA BAPA

NDEPPUR MO ANGIN IDELLENG BA PA

OTANG ROROHON MO SISAMPURAGA

NDEPPEUR MO DAGINGMU MBELLEN BAPA

ASA NDOR  KONO  LAUS  MERSIKKOLA

NDOR KO MBELGAH

NDORKO MBELGAH DA BAPA

ASA LOT MERDILO MANGAN DA BAPA

Oleh: pakpaksim | 12 November 2010

SAMISARA

Cip. Muda M. Banurea

Maun poda lustun sada ari

Kum oda kudilo gerarmu

Ipas nipi pe enggo kuembah

Kono Kelleng atengku

 

Nggati aku mada terpeddem

Pellin mernenget pekirananta

Janji pe enggo sipudun

Kono mahan permaen inang

Samisara oh samisara

Kelleng atengku le turang

Mak tersibar mak terkellang

Ulang mbiar ulang roga

Pos atemu le turang

Kita oda ne tersirang

 

Nggati aku ….

 

Giam saut angan-anganta

Kita sidua  sada sungguken

Mike pe pedua-dua

Barang mi jehe marang mi julu

 

Oleh: pakpaksim | 12 November 2010

KIRPONG TUMATAK

Cipt. Bahrum bako

Pong kirpong kirpong kirpong

Tapuldep poi-pio kirpong kirpong

Nina sorana terbegge aku kan sindaoh

Tang katingtang tingtang  poi

Nola le nina nola katingtang tingtang poi

Nina sorana terbegge aku kan sindaoh

Sora genderrang dekket kalondang Kucapi pe

Memahan  pusuh-pusuhku ndabuh  Ale turang

Ser ..kuserser mi kambirang

kuserser mi kamuhun kuserser bang mi podi

Mbue bagena si kubettoh lako tumatak

Bas… merdembas mo karina

Ulang mo kita lupa tumatak adat Pakpak

Mbue bagena si kubettoh lako tumatak

Ileapken tangan lako mi babo

Idabuhken tangan lako mi terruh

Pegancih-gancih neneh i

Sipata sondat kita lako jemba

Sipata balik kita mi bekkasta

Mergenning-genning daging i

Merlolo ate karina

Mersampang ate kita  meriah karinana

Ulang lot ne kita enda merbetcut abe

Older Posts »

Kategori